• Tak Berkategori

Wajib, Revolusi Mental soal Transportasi & Lalu Lintas

Written by on Juli 11, 2016

Saat ini, marak di media sosial, bahkan hingga media massa, aksi dan reaksi saling menyalahkan terkait masalah arus mudik Lebaran 2016. Salah karena macet, salah karena manajemen transportasi yang payah, hingga salah karena korban yang jatuh akibat kecelakaan lalu lintas. Bila dipikir secara jernih, sejatinya semua pihak yang dipersalahkan dan menyalahkan memiliki salah masing-masing.Namun terlepas saling menyalahkan, seyogyanya sesemua pihak merefleksikan seluruh permasalahan yang terjadi pada arus mudik dan arus balik Lebaran 2016. Refleksi diri, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian, kepolisian, pengusaha jasa transportasi, pengelola jalan tol, hingga konsumen.

Pemerintah pusat, menurut Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, semestinya pemerintah pusat memperbaiki sistem transportasi publik secara nasional, kemudian diteruskan sesuai daerah masing-masing oleh seluruh pemerintah daerah terkait. Sudah saatnya transportasi publik yang aman dan nyaman menjadi salah satu prioritas utama pembangunan nasional dan daerah. Sudah saatnya, baik pemerintah pusat maupun daerah, mengampanyekan penggunaan transportasi publik daripada transportasi pribadi. Seiring dengan itu, menurut Tulus Abadi, pemerintah mesti memastikan pemenuhan Standar Pelayanan Minimun (SPM) dan ketersediaan infrastruktur jalan yang memadai.

Khusus buat para penyedia jasa transportasi, YLKI mendorong upaya evaluasi armada secara konsisten agar tidak ada lagi armada yang tidak laik jalan tetap beroperasi. Satu lagi, para pengusaha wajib mengevaluasi kesiapan para awak (sopir dan kondektur) dalam berkendara. “Jangan ada lagi awak bus yang mengantuk, dan juga armada yang dipaksakan mengangkut penumpang melampaui kapasitas yang ditetapkan,” ujar Tulus Abadi.

Sementara dari sisi konsumen, Tulus Abadi berharap pasca Idul Fitri 1437H, kita dapat belajar dan mengambil hikmah dari semua peristiwa yang terjadi. Konsumen transportasi dan lalu lintas mesti mematuhi rambu lalu lintas dan marka jalan, saling menghormati di jalan raya (berbagi jalan dengan sesama), juga menahan diri untuk tidak melanjutkan perjalanan bila mengantuk.

Pasalnya, sebagian besar kecelakaan lalu lintas dipicu oleh pelanggaran lalu lintas dan juga pengemudi yang memaksakan diri walau sebenarnya mereka sudah mengantuk,” pungkas Tulus Abadi.

Ketimbang kita saling menyalahkan satu sama lain atas peristiwa yang terjadi, lebih baik kita melihat ke depan sambil introspeksi diri untuk menjadi lebih baik lagi di masa mendatang. Bila ada hal yang salah pernah kita lakukan, lebih baik meminta maaf dan memperbaiki kesalahan itu menjadi sebuah hal yang bermaslahat buat sesama.

Terakhir, mengingat peristiwa terkait transportasi dan lalu lintas di masa mudik Lebaran ini bukan hal pertama terjadi, maka seyogyanya kita sama-sama melakukan revolusi mental untuk sebuah pemangku kepentingan yang ada. Pemerintah (pusat maupun daerah) berevolusi, rakyat pun…


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

WhatsApp us
%d blogger menyukai ini: