• Tak Berkategori

Mendorong Gereja Membaca dan Menulis

Written by on November 8, 2016

Kesadaran memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara memang harus terus digiatkan dan dikuatkan bagi segenap masyarakat di negeri ini. Bertautan dengan hal tersebut, tentu anggapan yang tepat untuk memperkuat eksistensi di negeri ini adalah medorong kecerdasan masyarakat dari segi usia. Hanya saja apakah bacaan yang akan hadir untuk mencerdaskan masyarakat ini bisa bisa dengan efektif memberikan kecrdasan pada masyarakat? Dan bila pun demikian, apakah bacaan yang memberikan kecerdasan itu juga akan mudah digapai oleh masyarakat luas dengan cara yang mudah? Dan tentu saja hal ini menunjukan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan pelayanan yang menghadirkan pencerdasan. “Dengan bahan-bahan bacaan, yang membuat mereka jauh lebih pintar.” Inilah ungkapan Inget Sembiring Ketua Yayasan Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia.

Sembiring menyampaikan hal tersebut kepada wartawan bersamaan waktu dengan bergulir demonstrasi di Jakarta, pada tanggal 4 November 2016 yang lalu. Sembiring yang adalah juga Wakil Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembinaan Manajemen ini, mengatakan hal itu bertepatan dengan perayaan hari lahirnya BPK Gunung Mulia, salah satu penerbit di Indonesia yang telah lama bermitra dengan RPK FM. Pada perayaan 70 tahun BPK GM itu, Sembiring sebagai Ketua Yayasan BPK GM menekankan kembali bahwa BPK GM ingin melayani masyarakat Indonesia, untuk membangun kecerdasan bangsa melalui bacaan bermutu, dan jangkauan akses baca yang mudah bagi masyarakat Indonesia di mana pun berada.

Kemudahan penjangkauan akses baca itu juga mengakselerasi gerak peradaban literatur di dunia dan khususnya Indonesia. Misalnya penggunaan alat digital yang saat ini masih digandrungi oleh kebanyakan masyarakat di tanah air atau pun juga di dunia. Sembiring memberikan contoh bahwa dalam sebuah telepon genggamnya terdapat bermacam aplikasi termasuk aplikasi lagu rohani dan Injil. Semua aplikasi tersebut menurutnya memiliki dasar yang sama dalam memproduksi sebuah buku. “Dan itu harus menjadi bagian yang dikerjakan oleh BPK,” kembali Sembiring, yang juga salah satu Dewan Yayasan Danau Toba. Ia menekankan yang harus dilakukan BPK GM dalam menapaki pelayanannya selepas usia 70 tahun. Eksistensi 70 tahun bukanlah yang mudah bagi sebuah penerbitan, bagi masyarakat yang diterpa kemudahan untuk mencapai produk digital.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, komisaris dari berbagai lembaga audit ini mengatakan, bahwa BPK akan terus berjalan bersama dengan masyarakat yang memiliki keakraban dengan BPK GM. Komunitas gereja misalnya. BPK akan terus menjaga keakrabandengan warga gereja sambil mencoba terus mengerti dan terus mencari tahu, tentang kebutuhan-kebutuhan pemikiran warga gereja. “Buku apa yang mereka perlukan, pemikiran apa yang mereka butuhkan?” ucap sembiring bertanya. “Itu yang musti kami layani,” lanjutnya menjelaskan. Sejalan dengan hal tersebut, Direktur BPK GM, Johan Tumanduk mengatakan bahwa BPK GM harus menjadi mitra gereja untuk meningkatkan kompetensi, “Baik pendeta, majelis jemaat, aktifis dan umat,” demikian Tumanduk menjelaskan.

BPK GM yang memiliki vis Gereja Membaca dan Menulis ini telah menjadi menjadi usungan yang memberikan beban kepedulian BPK GM untuk melakukan upaya yang maksimal bersama gereja. “Sehingga pada gilirannya terjadi suatu sinergi yang baik,” begitu ungkap Tumanduk. Dan hal tersebut menurutnya adalah upaya nyata BPK GM untuk mencerdaskan umat. “Itu yang dimaksud dengan Gereja Membaca dan Menulis,” Lanjut Tumanduk menjelaskan. Tumanduk sendiri ajuga mengungkapkan bahwa BPK GM terus mendorong gereja-gereja untuk membuka kesempatan setiap pendeta-pendetanya untuk menulis. Karena dengan menulis, masih menurut Tumanduk, berarti setiap orang akan terdorong juga untuk membaca. “Karena tidak mungkin menulis tanpa membaca,” kembali Tumanduk menekankan.

Tumanduk juga mengatakan bahwa perjalanan kegiatan kerja BPK GM bersama gereja-gereja saat ini, bukan hanya memperlihatkan kegiatan misi penerbitan namun juga sisi bisnis penerbitan BPK GM. Dalam hal peningkatan usahanya itu Tumanduk mengatakan bahwa salah satu peningkatan penjualan terbesar saat ini adalah penjualan bacaan anak. “Kami mengalami peningkatan sebesar 60 persen untuk penjualan buku-buku anak,” begitu ungkap Tumanduk dihadapan wartawan. Kebutuhan akan bacaan anak diketahui melalui tim pengembangan anak yang kemudian direalisasikan dalam sebuah produk bacaan, bagi kepentingan pengembangan anak. Bila selama ini setiap produk terbitan menggunakan strategi yang disebut Tumanduk sebagai low impact, maka strategi bersinergi dengan berbagai instansi disebut strategi high impact.

Dampak dari strategi itu, pihaknya, menurut Tumanduk mendapat banyak kemudahan. “Tuhan baik, saya cuma mau bilang Tuhan baik!” begitu ujarnya memancarkan kegembiraaan. 70 tahun BPK GM sendiri memang sangat menampakan tampilan toko yang menyegarkan dan penuh warna. Kondisi status pendapatan lembaga masyarakat Kristen di Indonesia itu, menurut beberapa pihak telah mengalami perubahan yang sangat baik, yaitu dari minus ke plus. Selain cabang-cabang yang ada, BPK GM baru saja membuka cabng-cabang tambahan seperti Balikpapan, dan Depok. “Dan tahun depan kami akan buka di Manokwari,” begitu kata Tumanduk yang adalah juga Penatua Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat. Dipilihnya Kota Manokwari, menurutnya, kota tersebut memiliki sejarah unik bagi masyarakat Papua dan warga gereja di Indonesia. “Karena Injil pertama kali masuk Papua di Manokwari,” ungkap Tumanduk


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

%d blogger menyukai ini: