• Tak Berkategori

Kita Harus Buat Perubahan yang Membahagiakan

Written by on November 9, 2016

Kongres Nasional Asosiasi Pendeta Indonesia bergulir dengan berbagai pesan-pesan yang memiliki beban kehidupan para pemimpin umat dalam hidup berbangsa dan bernegara. Pesan-pesan moral bagi para penyalur dan penjaga moral itu juga membuka mata bahwa banyak sekali perjuangan para pemimpin umat dalam menapaki titian persatuan dan kesatuan bangsa. Acara pembukaan yang dihadiri Menteri Koordinasi Bidang Politik Hukum dan Keamanan Republik Indonesia, Jenderal Purnawirawan Wiranto itu, berlangsung dari tanggal 8 hingga tanggal 11 November 2016.


Dengan mengambil tema : “Jadilah Agen Perubahan” panitia penyelenggara akhirnya memilih tempat di Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Rencana awal penyelenggaraan Kongres ini, seyogyanya diselenggarakan di Tomohon , Sulawesi Utara. Namun menurut Wakil Ketua Panitia Penyelenggara Brigadir Jenderal Purnawirawan Pendeta Harsanto Adhi, langkah pemindahan acara ini memperhitungkan peran API dalam kehidupan kondisi bangsa pada saat ini. Dan secara terbuka pun Harsanto mengungkapkan bahwa ada 6 DPD yang tidak hadir sebagai peserta dalam kongres ini. Oleh sebab itu pada penyelenggaraan kongres kali ini dihadiri oleh peserta yang berasal dari 24 DPD dan 200 DPC selutruh Indonesia.

Harapan panitia dalam penyelenggaraan ini adalah untuk mewujudkan hasil nyata bagi sebuah perubahan yang lebih baik. “Dan semua utk kemuliaan Tuhan,” demikian Harsanto saat menyampaikan sambutan sebagai laporan kerja panitia. Ketua API, Pendeta Nugroho Cahyadi dalam sambutannya mengungkapkan pentingnya makna penyelenggaraan kongres ini bagi kehidupan bangsa dan negara, “Khususnya bagi para hamba Tuhan,” demikian ungkap Nugroho. Makna tersebut adalah juga memperhitungkan dan memperhatikan kondisi bangsa dan negara yang saat ini tengah menghadapi banjirnya informasi. Informasi yang begitu penting itu sebenarnya bisa membawa kebangkitan sebuah bangsa bahkan juga sebaliknya, “Dapat menghancurkan kehidupan bangsa dan negara,” demikian Nugroho mengingatkan.

Media sosial saat menjadi salah satu tantangan yg dihadapi umat beragama dalam hidup sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Media sosial yang diharapkan bisa membuka wacana ternyata kini menjadi salah satu tantangan bagi orang beriman, mengingat media sosial juga menciptakan kepentingan diri sendiri. Karena sifat keindividuan tersebut bisa membawa eksistensi agama yang seharusnya sebagai rahmat berubah menjadi laknat.

Maka Kongres Nasional III API kali ini adalah untuk tetap menjaga visi dan misi organisasi yang telah dibangun sejak 14 tahun lalu. maka kongres ini juga mengharapka lahirnya generasi yang sanggup menjaga visi dan misi organisasi yang sekali gus juga menjadi agen perubahan. “Usahakan dan berdoalah untuk kesejahteraan Indonesia,” begitu pesan Nugroho kepada para peserta kongres. “…untuk kemuliaan Tuhan, yang dimulai dari diri sendiri,” tambahnya kemudian.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia, Abdurrahman Ma’sud, melalui perwakilannya, Maya Malau mengatakan bahwa pemerintah berharap kongres ini bisa membawa perubahan yang dimulai dari masing2 hamba Tuhan. Gereja pada dasarnya memiliki prinsip yg sama dgn organisasi manapun. “Namun gereja adalah pembawa perubahan,” begitu Malau mengutarakan isi teks sambutan Dirjen Ma’sud. Perubahan itu adalah perubahan bagi warga gereja dan bagi masyarakat luas. Oleh sebab itu pemerintah melalui Bimas Kristen Kemenag RI mengharapkan agar Kongres Nasional III API ini sebaiknya selaras dengan kepentingan gereja sebagai bagian dari negara Indonesia. Karena saat ini berbagai penyakit masyarakat hingga kekerasan yang mengatas namakan agama, sedang dihadapi oleh bangsa ini. “Dan hal tersebut harus dihadapi dengan kekuatan bersama,” begitu tambahnya.

Pihak Bimas Kristen mengungkapkan bahwa untuk gereja-gereja se-Indonesia saat ini, masyarakat Kristen di Indonesia memiliki 323 Sinode-sinode Gereja. Dan keberadan yang sesungguhnya bisa berfungsi bagi persatuan Republik Indonesia. Maka melalui tema yang diangkat kali ini, kongres nasional para pendeta ini diharapkan dapat lebih memperkuat keeratan rasa dan fisik tiap-tiap orang untuk hormat dan kemuliaan Tuhan
. Hal serupa juga diungkapkan Menkopolhukam Wiranto, yang mengungkapkan bahwa perubahan itu bisa menghasilkan perubahan yang baik dan juga perubahan yang buruk. Oleh sebab itu sebagai agen perubahan setiap orang, kata Wiranto, harus mampu mengatur gerak perubahan itu. “Perubahan harus kita atur dan bukan diatur perubahan,” demikian Wiranto menekankan.

Dan saat kita bisa mengatur perubahan tersebut, maka yang perlu kita lakukan adalah membuat sebuah perubahan yang membahagiakan. Perubahan yang membahagiakan itu sebenarnya telah lama lebih dahulu dilakukan para pendiri bangsa ini. “Sebagai bangsa kita telah banyak mengalami perubahan,” kata Wiranto yang juga Ketua Partai Hati Nurani Rakyat. Namun perubahan dari masa ke masa memang sebuah kebutuhan, untuk menuju kehidupan Indonesia yang lebih baik. Perjuangan perubahan bagi bangsa ini untuk menuju kehidupan bangsa yang lebih baik itu dimulai sejak adanya deklarasi kebangsaan di tanggal 28 Oktober 1928. Perubahan itu adalah perubahan sikap untuk memandang diri sendiri dengan mengakui ke-Indonesiaan. Hingga di tahun 1945, berkelanjutan dengan perubahan Kemerdekaan bangsa dalam sebuah negara Indonesia. “Dan perubahan tdk berhenti sampai di titik merdeka saja,” lanjut Wiranto mengisahkan.

Para pendiri negara telah meletakan dasar dan sasaran yg harus dituju bagi negara ini, yaitu kesejahteraan dan kecerdasan agar kemudian bisa ikut serta dalam perdamaiam dunia. Menurut wiranto setiap orang adalah agen-agen penerus perubahan bangsa untuk bisa lebih baik lagi. “Namun perubahan tanpa kepemimpinan tdk akan berhasil,” begitu ungkapnya kemudian. “perubahan bisa terjadi saat ada pembimbingnya,” lagi ia menambahkan. Dan para pendeta adalah para pemimpin kunci dari perubahan. Dan masih menurut Wiranto, para pemimpin inilah yang menentuka maju mundur umat dan juga bangsa negeri ini. “Bahkan mati hidup dari bangsa ini,” kembali Wiranto menekankan. Sebab itu, pemimpin yg berkwalitas berintgritas akan membawa perubahan bangsa menuju negara yang adil dan makmur, dengan menjaga kebersamaan dan persatuan bangsa ini. “untuk membangun Indonesia menjadi rumah bersama, sebagai rumah yang indah,” begitu lanjut Wiranto menegaskan.


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

WhatsApp us
%d blogger menyukai ini: