• Tak Berkategori

Pola Pendidikan Ciptakan Disorientasi Kebangsaan

Written by on Januari 11, 2017

Konsensus nasional bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa kian terasa guncangannya, terutama sejak bulan September 2016 yang lalu. Konsensus nasional yang terguncang itu adalah Bhineka Tunggal Ika dalam ideologi Pancasila. Guncangan dari segelintir kelompok ini tentu memang tidak bisa di sepelekan, mengingat guncangan-guncangan tersebut justeru semakin hari semakin memperbesar rasa ketidaknyamanan masyarkat. Guncangan-guncangan terhadap konsensus nasional itu menurut Nia Sjarifudin setiap kita harus melihat kebelakang terlebih dahulu, bagaimana Pancasila jargon. “Teorinya banyak tapi prakteknya kurang,” begitu kata pegiat Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika ini menjelaskan, saat Pancasila menjadi jargon era rezim Suharto.

Nia mengakui bahwa dari teori yang banyak tentang Pancasila tersebut, Indonesia perlu melakukan perbaikan metode di era reformasi saat ini. Namun sangat disayangkan, pada era reformasi ini justeru hilang. “Jadi pengetahuan tentang ideologi berkebangsaan itu juga semakin berkurang,” tambahnya mengungkapkan. Nia mensinyalir bahwa pola pendidikan di Indonesia juga menjadi penyumbang terbesar dalam menciptakan disorientasi kebangsaan. “Disoreintasi kebangsaannya jadi kebangetan,” ujarnya menandaskan. Menurutnya pola pendidikan formal di Indonesia pernah membuat generasi-generasi yang dilahirkan pada masanya, bisa mengisi ke-Indonesiaan minimal dalam pengetahuan formal. Hal itulah yang tidak dihasilkan generasi-generasi setelah Gerakan Reformasi Indonesia tahun 1998.

Perolehan pendidikan formal pada generasi yang ada saat ini, menurutnya ke-Indonesia-annya yang semakin berkurang. Hal itu juga menunjukan keironisan generasi yang hidup dengan teknologi yang dengan mudah memperkenalkan dunia. “…lebih banyak kenal tentang global, tapi tidak kuat pemahaman kebangsaan kita, untuk apa?” papar Nia, juga balik bertanya. Keadaan seperti ini yang menurutnya, banyak membuat bangsa Indonesia yang mudah menghafal 5 sila, namun tidak mengetahui bagaimana sejarah Pancasila sebagai Ideologi bersama, bagaiaman nilai-nilai Pancasila bisa menjaga keberagaman berbagai suku agama dan budaya juga bahasa di Indonesia, tidak menjadi pengetahuan yang kuat di masyarakat, bahkan juga para pelaksana kenegaraan Indonesia sekarang ini.

“Ini menjadi hal yang berbahaya,” demikian Nia mengingatkan. Ungkapan tersebut berhubungan langsung dengan arah kehidupan berbangsa dan bernegara, taerlebih lagi bila mengingat bahwa Indonesia tidak terlepas dari rivalitas Internasional. Bagi Nia Indonesia adalah bangsa yang cantik karena memiliki banyak hal yang Tuhan anugerahkan bagi bangsa ini. Alam yang indah, bangsa yang penuh etnik, keberagaman agama, sampai jutaan corak budaya. “yang harus kita kelola dengan sebaik mungkin,” tambahnya lagi. Anugerah yang berkelimpahan bagi bangsa-bangsa di atas negeri ini sesungguhnya harus membentuk masyarakat di negara ini bukan hanya hidup toleran, “…tetapi bangsa yang memiliki solidaritas tinggi,” timpalnya lagi.

Tidak heran bila berbagai kasus penutupan gereja, pembelaan yang datang bukan hanya dari perjuangan kelompok masyarakat Kristen atau Katolik saja, namun juga dari kelompok masyarakat Islam, “selalu muncul temen-temen Ansor, lintas agama yang lain,” ungkap Nia kepada beberapa waretawan pagi itu. “Itu bagi saya sebagai karakter asli bangsa kita yang begitu solidaritasnya,” tambahnya lagi. Kehidupan asli bangsa Indonesia ini memang sudah sepantasnya bisa kembali sebagai bagian kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebab itu pola pendidikan yang nyata harus benar-benar mengedepankan penanaman pengertian nilai-nilai Pancasila beserta sejarah, bagaimana Pancasila yang memiliki nilai-nilai kehidupan asli nenek moyang bangsa yang bukan nilai-nilai impor dari bangsa asing yang tidak sesuai dengan tanah yang dipijak dan langit yang dijunjung di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Nilai-nilai luhur bangsa yang tertera dalam sila-sila yang dalam Pancasila, adalah satu-satunya pilihan dari kesadaran para pendiri bangsa. Mereka memilih Pancasila, dengan kesadaran adanya keberagamana yang dimiliki bangsa-bangsa negeri ini. Tentunya masyarakat yang memiliki kekayaan keindahan alam ini juga menyadari bahwa masyarakat di negeri ini juga memiliki kekayaan keindahan nilai luhur kehidupannya. Jadi bukan hal yang mengada-ada bila banyak orang yang menginginkan pengembalian ajaran tentang Pancasila ke dalam kehidupan pendidikan anak-anak di negeri ini. Agar hasil pendidikan formal tentang Pancasila itu juga bersanding dengan pendidikan informal tentang Pancasila. Sehingga pelestarian ajaran nilai-nilai luhur bangsa ini tidak hanya terpelihara dan ditemukan dalam buku-buku pelajaran, namun juga dengan mudah ditemukan dalam kehidupan peradaban setiap masyarakat dari waktu ke waktu, menurut perjalanan sejarah negeri ini, di waktu-waktu mendatang.


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

%d blogger menyukai ini: