• Tak Berkategori

ERWIANA : Menguak Penderitaan Pekerja Migran

Written by on Januari 18, 2017

Sutradara Film Erwiana; Justice for All, Gabriel Ordaz Mckail, Erwiana Sulitiyaningsih, dan Sekum PGI, Pdt. Gomar Gultom

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia benar-benar mendapat kesempatan langka di awal tahun 2016 ini, saat pemutaran perdana Film “ERWIANA; Justice for All” benar-benar terselenggara pada tanggal 16 Januari 2017 yang lalu di Aula PGI, Grha Oikoumene, jalan Salemba Raya No. 10, Jakarta. Sekretaris Umum PGI, Pendeta Gomar Gultom menyatakan peristiwa tersebut sebagai suatu kehormatan yang luar biasa.

Film yang mengisahkan tentang penderitaan pekerja migran di Hongkong ini adalah gambaran perjuangan kemanusiaan para pekerja migran, yang acap kali mengalami ketidak berpihakan penguasa terhadap kaum pekerja, terutama kaum pekerja migran yang sedang mengalami permasalahan. Film ini mengetengahkan kisah nyata dari kasus yang terjadi atas Erwiana Sulitiyaningsih, seorang tenaga kerja Indonesia asal dusun Kawis, Ngawi, Jawa Timur.

Kasus Erwiana yang sempat menjadi berita besar di Hongkong ini, berawal saat ia mulai bekerja di Hongkong pada bulan Mei 2013, hingga terjadi peristiwa penderitaan mental dan fisik yang mendera Erwiana di awal Januari 2014 yang lalu. Film ini membuka borok agen-agen pengerah tenaga para pekerja migran, termasuk ketidak-perdulian Konsulat RI di Hongkong pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang, yang silam. Kebobrokan dan ketidak perdulian itu, berdampak buruk bagi nasib para pekerja migran Indonesia di Hongkong.

“bahkan mereka mengancam saya… ” ungkap Erwiana

Seusai pemutaran film berdurasi 80 menit itu, melalui akun Facebooknya, Pendeta Gultom mengungkapkan bahwa acara dilanjutkan diskusi tentang film tersebut. Dan pada kesempatan itu Erwiana yang hadir menungkapkan bahwa Konsulat tidak membantu dirinya sama sekali, “… bahkan mereka mengancam saya untuk tidak meneruskan kasus ini ke pengadilan Hongkong,” begitu ungkap Erwiana yang saat itu sudah dalam keadaan kesehatan yang normal.

Dalam film tersebut, Prof. Hans J Ladegaard, Pimpinan The Hong Kong Polytechnic University mengungkapkan, bahwa sesungguhnya lebih dari 80% kasus pekerja migran tidak pernah dilaporkan. Dan bila pun ada pelaporan, namun laporan tersebut tidak dapat ditindak lanjuti ke tahapan persidangan, karena hal tersebut sulit pembuktiannya. Selain itu, tidak adanya laporan dari para pekerja migran, karena mereka merasa mengalami dilema.

Dilema tersebut adalah kesadaran akan realita adanya ketergantungan keluarga pada mereka sebagai pencari kerja yang pada akhirnya memunculkan pertimbangan, bila mereka melawan majikan dengan cara melaporkan, tentu saja secara otomatis kehilangan pekerjaan. Atau bila memberanikan diri untuk melaporkan, perjalanan proses pelaporannya dipastikan memakan waktu empat sampai delapan bulan bahkan lebih. Bila kondisi tersebut berlangsung secara nyata, maka akan membuat si pekerja migran kehilangan pendapatan yang selama ini membiayai kehidupan keluarga.

“… saya terpanggil untuk menyampaikan keluhan mereka,”

Kebingungan-kebingungan tersebut belum lagi ditambahkan dengan sikap arogansi para Majikan yang terungkap dalam film ini. Arogansi yang sangat tidak manusiawi itu antara lain ungkapan menantang yang menunjukan keangkuhan para majikan. “Memangnya kamu bisa apa?” demikian Erwiana, mengucapkan salah satu ungkapan kearogan para majikan. “Kau tak punya kekuatan apa-apa untuk melawan saya,” tambahnya lagi. Keterbatasan kemampuan para penkerja migran di Hongkong itu lah yang menjadi dorongan Gabriel Ordaz Mckail, sang sutradara “ERWIANA; Justice for All”. Mckail yang berkebangsaan Amerika Serikat ini mengatakan bahwa para pekerja migran tidak tahu lagi cara mengeluhkan permasalahan mereka.

“Dan saya terpanggil untuk menyampaikan keluhan mereka,” tukas lelaki asal Los Angles itu. Mckail mengatakan walau pun dirinya bukan seorang pembicara, namun ketika ia mendengar kisah-kisah pilu para pekerja migran di Hongkong ini, ia sebegitu dapat merasakan banyaknya penderitaan. Banyaknya penderitaan itu membawa Mckail ingin menginformasikan bagaimana penderitaan para pekerja migran tersebut. “Saya hanya ingin menyampaikan itu semua lewat film ini,” demikian paparnya mengungkapkan. Alhasil dengan kocek sendiri Mckail membiayai pembuatan film ini, bahkan juga termasuk ongkos perjalanan ke Jakarta untuk acara pemutaran perdana malam itu.

Dan yang lebih menarik lagi, sekalipun filmnya berakhir bahagia, lelaki kelahiran Mexico itu mengungkapkan bahwa sesungguhnya, banyak kasus yang tidak berakhir bahagia. Seperti dalam film tersebut, sejarah mencatat bahwa Erwiana memenangkan proses pengadilan hingga Pemkot Hongkong menjebloskan mantan majikannya ke dalam penjara. Pada catatan perjalanan sejarah di bulan Januari tahun 2014, hubungan antara pekerja migran dengan masyarakat Kota Hongkong tertoreh bahwa para pekerja migran dari berbagai negara pernah melakukan gelombang protes bersama. Mereka mendorong ketegasan pemerintah Kota Hongkong terhadap penganiayaan yang dialami Erwiana.

Saat itu, para pekerja asal Indonesia dan Filipina mendominasi dalam gerakan turun ke jalan, sampai kepolisian kota itu menangkap si pelaku penganiayaan yang adalah mantan majikan Erwiana sendiri. Dan pada diskusi malam itu Erwiana mengaku kasihan dengan nasib yang dialami oleh mantan majikannya, lantaran harus menjalani masa hukuman selama enam tahun lamanya. “Kasihan juga melihat majikan saya harus dihukum,” begitu ungkap Erwiana pada diskusi tersebut. “Bagaimana pun, juga dia seorang ibu,” lanjutnya lirih.

Dan dari apa yang telah terjadi, mereka pun berharap tidak akan ada lagi pekerja migran yang mengalami nasib yang sama dengan Erwiana. Sementara itu bagi PGI, pemutaran film “ERWIANA; Justice for All” perdana di PGI menjadi sebuah kehormatan. Bukan saja bagaimana sebuah perjuangan kemanusiaan dalam kemasan film, menggunakan markas PGI, tapi juga bagaiaman Mckail, Sang Sutradara berkenan hadir bersama tokoh yang diceritakan, Erwiana Sulistyaningsih hadir untuk berbagi “yang menciptakan keharuan tersendiri,” tulis Pdt. Gultom dalam akun facebook-nya.


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

%d blogger menyukai ini: