• Tak Berkategori

Thalasemia Tidak Halangi Anissa Octiandari Berprestasi

Written by on Mei 12, 2017

Anissa Octiandari, gadis berusia 23 tahun yang hidup dengan Thalasemia Mayor sejak berusia 6 bulan. Tepat di tahun 1994 yang saat itu masih sangat minim informasi tentang Thalasemia, gadis yang akrab disapa Nisa ini, menjalankan hidupnya dengan Thalasemia itu. Sekalipun demikian, Nisa menanggapi thalasemia sebagai karunia Tuhan. Oleh sebab itu, meskipun Hari-hari SDnya dilalui cibiran, namun tidak membuat Nisa gentar. Hingga akhirnya Nisa berhasil lulus Geologi Universitas Padjadjaran pada tahun 2015.

Thalassemia adalah anemia hemolitik herediter yang diturunkan orang tua kepada anak-anaknya secara resesi. Gejela yang di timbulkan adalah wajah pucat, perut tampak membesar karena pembekakan limpa dan hati, perubahan bentuk tulang muka dan warna kulit yang menjadi menghitam. “Penyakit tidak menghentikan suatu prestasi,” kata perempuan muda ini di Kantor Kementrian Kesehatan RI. Iya mengungkapkan bahwa segala resiko ia tanggung sendiri hingga menginjak usia dewasa.

Bukan hanya di dunia pendidikan, penderita thalasemia seperti Nisa ini memiliki kewajiban menjalankan transfusi darah setiap bulannya. Kondisi ini tentu membuat penyandang thalasemia berbenturan dengan kewajiban-kewajiban di dunia kerja, mengingat tidak sedikit perusahaan yang tidak mentolerir waktu kerja walau hanya sejam sekali pun. Sedangkan pengidap thalasemia membutuhkan satu hari libur setelah melakukan transfusi darah. Nisa menyadari kondisi seperti ini menurunkan tingkat kepercayaan diri.

Begitu besarnya dampak kehidupan bagi para pengidap thalasemia ini, mendorong Nisa untuk membentuk komunintas anak muda yang giat dan rajin melakukan kampanye mengenai tentang thalasemia. Komunitas yang bernamja Thalassemia Movement ini bertujuan meningkatkan pengetahuan tentang thalasemia kepada masyarakat dan bekerja untuk mengurangi angka korban thalasemia. Keberadaan dan kegiatan Thalassemia Movement ini terpublikasi melalui berbagai media sosial dan kegiatan serta turun kejalanan.

Kegiatan yang mereka lakukan kebanyakan adalah berbagi cerita cerita bersama komunitas muda, membagi spirit agar ada peningkatan kwalitas hidup bagi pengidap thalasemia. Selain dengan masyarakat secara langsung, mereka juga berbagi dengan para pekerja media massa. “Dengan adanya press conference semakin meningkatkan kualitas hidup kami,” demikian akunya dihadapan wartawan. Peningkatan kwalitas hidup ini bertujuan agar tidak ada lagi penyandang thalasemia yang putus sekolah,bahkan tidak mau bersosialasi.

Peningkatan kwalitas itu menurut Nisa juga mendorong pengidap thalasemia mau mengeksplotasi diri. Nisa sangat bertrimakasih pada pihak Dinas Kesehatan serta Kemenkes yang dirasa mau peduli, serta memberikan pelayanan yang baik untuk penyakit thalasemia. Nisa bersenda gurau dengan mengatakan bahwa semakin lama semakin tahun, darah di PMI semakin nikmat. “Jadi kita bisa bilang kami itu Real live Vampire,” candanya “Vampire yang asli itu kami, bukan Edward Cullen,” lanjut Nisa disambut tawa para wartawan.


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST