• Tak Berkategori

Kuat Saat Kehilangan dan Kedukaan

Written by on Juni 8, 2017

Sebenarnya, sisa sekitar 10 minggu lagi saja Nur Yanayirah menunggu kelahiran bayi dari kehamilan pertama. Namun, tanpa diduga Yana, bayi yang telah ditunggu selama empat tahun bersama sang suami, tak bernyawa lagi di dalam rahimnya. Meninggal di dalam kandungan. Dia syok, depresi, sampai nyaris bunuh diri.

Tak sedikit perempuan seperti Yana yang harus menerima kenyataan bayi di kandungannya meninggal. Ironisnya, nyaris semua pula tak tertangani dengan baik ketika mengalami guncangan berat seperti dialami Yana. “Setelah kejadian itu tidak ada yang memberi dukungan. Hanya bilang sabar dan sabar saja. Padahal itu pukulan berat bagi saya. Bayangkan, dari ada menjadi tiada,” kata Yana menerangkan kekalutan hatinya saat itu dalam sesi Klinik RPK FM di Program Obsesi edisi Kamis, 8 Juni 2017.

Yana menyarankan apabila ada lagi kasus yang sama dialami ibu lain maka secepatnyalah berkonsultasi dengan tenaga profesional di bidang psikologi. Pasalnya, kata Yana, apabila kondisi kejiwaan yang tidak stabil seperti yang dialaminya tak tertangani dengan baik dan bahkan berlarut-larut alamat dampak buruk yang menanti.

“Saya hamil lagi lima bulan kemudian. Tapi, karena kondisi kejiwaan saya tidak ditangani dengan baik, saya selalu diliputi kecemasan selama sembilan bulan kehamilan. Tidak merasa bahagia. Selalu panik ketika kunjungan ke rumah sakit dan bertemu dokter atau perawat,” kenang Yana, yang kemudian membidani wadah Mother Hope Indonesia. Karena kecemasan yang tidak tertangani tersebut, Yana bahkan sampai mengalami depresi berat dan nyaris bunuh diri.

Di masa-masa kritis, Yana akhirnya mendapatkan pertolongan dari tenaga psikolog. Pertolongan yang semestinya telah didapatkannya sejak awal masa kehilangan anak pertama dalam kandungan. “Saya baru dapat pendampingan dari psikolog malah ketika kehamilan sudah memasuki usia sembilan bulan, sudah pada masa persiapan melahirkan,” sesal Yana.

Untuk itu, Yana meminta agar setiap orang tidak menganggap remeh pada keadaan seorang perempuan yang mengalami bayi meninggal dalam kandungan atau kehilangan bayi lainnya seperti karena keguguran, bayi meninggal setelah melahirkan, dan kematian anak.

Yana juga mengingatkan agar setiap ibu jangan berjuang sendiri dan memberi jeda waktu sebelum program hamil lagi. “Bicaralah dengan tenaga profesional seperti psikolog sembari memberi jeda waktu sebelum hamil lagi. Ambil waktu untuk konsultasi, terima dukungan, mengistrahatkan tubuh dan pikiran, serta untuk memberi kenyamanan pada tubuh,” saran Yana. (rik)


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

%d blogger menyukai ini: