Pengendalian Gadget, Kita Mengendalikan atau Dikendalikan?

Written by on Agustus 31, 2017

Teknologi hadir untuk membantu kemudahan manusia dalam menjalani pengendalian kehidupan ini. Namun apakah benar kita sebagai manusia mendapat kemudahan dalam mengendalikan kehidupan dengan gadget yang kita miliki, atau mungkin justru kita yang dikendalikan gadget? Bukan kabar baru bila kita sering melihat keluarga berkumpul dengan masing-masing anggota keluarga itu sibuk dengan gadget mereka masing-masing.

Dan saat ini para pemegang gadget atau dalam Bahasa Indonesianya “Gawai” adalah kelompok orang muda. Dan kebanyakan dari kelompok ini dengan mudah untuk menyalurkan informasi dengan seadanya, seperti yang didapat tanpa ada ketelitian respon terhadap informasi tersebut. Namun demikian, setiap kita pengguna gadget seharus mulai mau terbuka untuk bukan hanya menjadi pelahap informasi, namun juga menjadi pengolah atau bahkan menjadi produsen sebuah informasi.

“Menjadi pembuat konten yang positif di media sosial,” ungkap Agustinus Eko Rahardjo dari Kantor Staff Presiden, kepada RPKFM dalam Program Teman Ngomongin Teknologi atau TNT, di jam Teman Sore Hari Senin. Konten yang dimaksud pria yang akrab disapa Jojo itu adalah konten yang dimuat di sosial media. Konten-konten itu berasal dari berbagai pemikiran, yang menggunakan dasar dari apa yang kita lihat dan dengar, dan berdampak positif bila dibagikan.

“Kalau pun belum bisa menulis panjang, statusnya mencerahkan,” begitu Jojo menuturkan. Bill Gates dan almarhum Steve Jobs pun ternyata menjauhkan anak-anak mereka dari barang-barang yang mereka produksi. Gates, menurut Jojo secara ketat melarangng anaknya menggunakan ponsel, sebelum berusia 14 tahun. “Aturan itu dibuat oleh Gates sebagai upaya menjaga hubungan tatap muka, di lingkungan sosial anaknya,” begitu Jojo memaparkan

Intimacy sangat penting dalam hidup bermasyarakat terlebih bila kita bisa menginspirasi setiap orang melalui konten yang tidak membuat orang terdestruksi. Kalangan muda menjadi generasi penerus yang benar-benar hidup sendiri dengan gadgetnya sendiri. Kondisi yang cenderung membentuk generasi mendatang sebagai pribadi yang mengikuti media sosial, yang sangat berbeda dengan bentukan pergaulan interaksi sosial secara langsung.

Dalam koridor ini kesadaran masyarakat sangat berperan bagi pembentukan generasi di masa mendatang bagi negeri ini. Masyarakat Indonesia sampai saat ini masih menjadi pengguna media sosial terbanyak di dunia. Sebab itu pembatasan penggunaan media sosial bukan suatu pilihan untuk memberi kesadaran yang baik. Maka respon dari para pengguna dalam hal ini sangat menentukan bagaimana pribadinya terbentuk.

Kesadaran itu juga yang pada akhirnya akan membuat para pengguna media sosial bisa lebih mengendalikan teknologi, dan bukan dikendalikan oleh teknologi. Dengan mengendalikan teknologi, seseorang pengguna media sosial bisa menempatkan kata-kata yang tidak menimbulkan kemarahan atau kebenciann terhadap siapa pun dan bagi siapa pun. Maka dari saat sekarang ini, kita dipersilahkan untuk bijak memilih kata pada status media sosial.

Jadi mulailah menyebarkan segala informasi yang positif, cobalah dengan kata-kata sederhana yang menyemangati, berlombalah untuk menuliskan status yang menginspirasi, dan biarlah apa yang kita lakukan membuat kita bisa menjadi berkat bagi orang lain. dengan demikian kita juga bisa memaknai kata-kata Indonesia Kerja Bersama dengan terus menyemangati semua orang yang melihat dan membaca postingan yang kita buat.

(Argopandoyo)

Tagged as

Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

WhatsApp us
%d blogger menyukai ini: