Menerima Pekerja Dengan Gangguan Kesehatan Mental

Written by on Oktober 26, 2017

Menerima karyawan yang belakangan mengalami depresi atau gangguan kesehatan mental lainnya karena beban kerja yang berat mungkin lumrah saja. Tapi, bagaimana apabila menerima pekerja yang belakangan diketahui ternyata menyandang masalah kesehatan jiwa?

Baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia dalam peringatan Hari Kesehatan Sedunia menyoroti perihal kesehatan jiwa di tempat kerja. Hal ini mengingat bahwa ternyata satu dari 7 orang disebut mengalami masalah kesehatan jiwa di tempat kerja. Namun, masalah yang lebih dalam adalah soal pekerja yang pada dasarnya memang memiliki latar belakang gangguan kesehatan mental.

Bagaimana cara bekerja sama dengan mereka dalam mengegolkan target-target bisnis yang ingin dicapai perusahaan?

Andai bertemu keadaan seperti ini, pemerhati kesehatan jiwa dari Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia Marina Siregar mengatakan kuncinya adalah menghilangkan stigma terhadap rekan kerja atau karyawan dengan masalah kesehatan mental.

“Boleh saja menyesuaikan job desk bagi pekerja yang mengalami gangguan kesehatan mental selama bukan karena menganggap pekerja tersebut tidak bisa kerja atau tidak punya kemampuan,” kata Marina dalam perbincangan di sesi Klinik RPK FM edisi Kamis, 26 Oktober 2017.

Untuk menghindari stigma, Marina menyarankan agar pimpinan perusahaan mengenali apa yang bisa dikerjakan karyawan dengan masalah kejiwaan dibanding mencoba mengenali apa yang tak bisa dikerjakan penyandang tersebut. “Intinya, jangan sampai menganggap dia tidak bisa kerja,” tegas Marina.

Perusahaan pun, tambah Marina, sebenarnya bisa saja mengeluarkan kebijakan khusus terhadap pekerja yang mengalami kesehatan mental, baik untuk yang diketahui sejak awal memang memiliki riwayat masalah kesehatan tersebut ataupun yang diketahui belakangan.

“Tapi, jangan sampai ada anggapan pekerja ini diistimewakan. Perlu diatur dalam regulasi di perusahaan supaya tidak ada yang cemburu dan merasa ada kesenjangan,” imbuh Marina. Dia juga mendorong agar perusahaan menyediakan layanan konseling dan pelatihan pribadi di tempat kerja mengingat siapapun sebenarnya bisa saja mengalami gangguan mental saat bekerja.

Sementara itu, kepada para calon pekerja yang mengenali dirinya ternyata mengalami masalah kesehatan mental, Marina menyarankan agar bijak memutuskan akan bekerja di mana dan jenis bidangnya. “Pahami bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Apakah bisa berinteraksi dengan orang lain atau cenderung pilih pekerjaan yang tidak mau banyak berinteraksi orang lain. Lalu putuskan jenis pekerjaan yang cocok,” saran Marina.

Di samping itu, Marina mengingatkan agar orang dengan masalah kesehatan mental tetap konsultasi ke dokter apabila sudah bekerja. “Pengobatan harus tetap berjalan. Tidak apa-apa tidak bisa bekerja tetap, yang penting tetap bekerja,” tutup Marina. (Rikardo)


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

%d blogger menyukai ini: