Menteri Yohana: Industri Rokok Membunuh Generasi Penerus Bangsa!

Written by on September 13, 2018

Peningkatan jumlah perokok pemula anak yang tinggi sejak tahun 1995 hingga 2013 sudah sampai pada titik memprihatinkan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, jumlah perokok anak untuk rentang usia 10-14 tahun meningkat dari 8.9% di tahun 1995 menjadi 18% di tahun 2013. Hal tersebut diperparah dengan fakta yang dikumpulkan oleh Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) 2013, sekitar 56% anak Indonesia yang berusia 0-4 tahun terpapar asap rokok di rumah mereka. 

Hal tersebut dapat terjadi, menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise, mengatakan bahwa industri rokok telah menjadikan generasi muda (baca: anak-anak) sebagai target marketing mereka.

(menurut saya) mereka tengah membunuh generasi penerus bangsa. Mereka membunuh hak anak-anak (untuk hidup sehat-Red). Ini adalah pelanggaran hak asasi manusia yang sesungguhnya,” tegas Menteri Yohana, pada pembukaan Asia Pacific Conference on Tobacco or Health (APACT) ke-12, di Nusa Dua, Bali (13/09).

Dalam sambutannya, Menteri Yohana pun memaparkan fakta catatan dari wakil presiden bidang penelitian dan pengembangan Philip Morris bahwa kaum remaja saat ini merupakan konsumen potensial mereka di kemudian hari, bahkan mayoritas perokok lanjut (usia tua) saat ini sudah merokok sejak mereka berusia remaja. Ditambahkan pula bahwa ditemukan fakta mengejutkan dari internal memo RJ. Reynolds Tobacco Company (1984) yang menyebut perokok remaja adalah faktor penting dari pertumbuhan bisnis rokok, dan kalau mereka berhenti merokok, maka industri rokok akan bangkrut.

Laporan Kementerian Kesehatan 2017 menyatakan bahwa dua sampai tiga dari sepuluh anak Indonesia berusia 15-19 tahun saat ini adalah perokok. Dalam periode 2001-2016, jumlah perokok usia 15-19 tahun meningkat dari 12% di tahun 2001, menjadi 24% di tahun 2016. Sementara dari Survey Ekonomi Sosial Nasional tahun 2016 mencatat bahwa 34.71% anak berusia 5-17 tahun telah merokok lebih dari 70 batang rokok per minggu.

Selain itu, anak-anak juga dieksploitasi oleh industri rokok. Dalam laporan Human Right Watch yang berjudul “The Harvest is in My Blood” melaporkan bahwa sekitar 500.000 anak bekerja di perkebunan tembakau di seluruh Indonesia. Anak-anak itu bekerja demikian dekat tanpa menyadari bahwa interaksi mereka dengan tembakau berisiko tinggi terhadap kesehatan mereka.

Asia Pacific Conference on Tobacco or Health (APACT) ke-12 diadakan di Nusa Dua, Bali, 13-15 September 2018. APACT ke-12 mengusung tema “Pengendalian Tembakau: Memastikan Generasi Sehat” dan dihadiri oleh sekitar 900 orang aktivis dan pemerhati pengendalian tembakau dari 30 negara di kawasan Asia Pasifik. Konferensi ini juga melibatkan banyak peserta dari kalangan remaja secara aktif memperjuangkan hak mereka untuk hidup sehat.

 


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

WhatsApp us
%d blogger menyukai ini: