Program Pengendalian Tembakau itu Memanusiakan Manusia (Seri 1)

Written by on September 18, 2018

* Ini adalah bagian pertama dari seri artikel seputar pengendalian tembakau di Indonesia. Seri artikel yang disarikan jurnalis Radio Pelita Kasih FM Jakarta dari ajang Asia Pacific Conference for Tobacco or Health ke-12 (APACT12th) di Nusa Dua, Bali, 13-15 September 2018. 

———————————————————-

 

Kesehatan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena itu, program pengendalian tembakau sejatinya ditujukan untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Prof. Hasbullah Thabrany dari Center for Social Security Studies, Universitas Indonesia, mengatakan bahwa data sains tentang bahaya tembakau, baik dalam bentuk rokok maupun yang lain, usah diragukan lagi. 

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, menurut Prof. Thabrany, menunjukkan bahwa lebih dari 600 orang mati setiap hari di Indonesia akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok. Lebih lanjut data dari Tobacco Atlas mencatat bahwa di Indonesia setiap tahun lebih dari 225.700 orang mati akibat penyakit yang disebabkan rokok. Lebih dari 469.000 anak (10-14 tahun) dan 5.324.800 orang dewasa (15+ tahun) terus merokok setiap hari.

Sementara, menurut Profesor bidang kebijakan kesehatan dan ekonomi kesehatan dari UI itu, Indonesia saat ini dinilai masih menjadi ‘surga’ buat perusahaan rokok dan membahayakan rakyat, terutama yang berpendapatan rendah.

Harga rokok yang murah membuatnya mudah didapat oleh hampir semua orang. Kecanduan mendorong masyarakat miskin untuk membelanjakan lebih dari 15% dari pendapatan harian mereka untuk membeli rokok, sedikit menyisihkan untuk makanan bergizi dan pendidikan anak. Anak dari para perokok pun didapati stunting (gangguan pertumbuhan) dan memiliki masalah kesehatan. Yang lebih penting, ketika orangtua yang merokok meninggal, perekonomian keluarga menjadi terancam,” papar Prof. Hasbullah Thabrany.

Survey Indikator Kesehatan Nasional (Sirkenas) 2016 menemukan bahwa 8.8% perokok adalah anak muda/remaja. Jumlah tersebut bertambah sejak tahun 2013 (7.2%), dan menunjukkan bahwa murahnya harga rokok menjadi faktor utama penentu anak muda merokok. Menurut Thabrany, menaikkan cukai rokok 20% per tahun dapat mengurangi prevalensi merokok hingga 1% per tahun.

Harga, pajak dan cukai adalah tiga faktor utama yang harus ditingkatkan untuk mengendalikan konsumsi rokok di Indonesia. Di sejumlah negara di kawasan Pasifik, seperti Tonga, peningkatan pajak rokok mendorong sekitar 18% perokok untuk mengurangi konsumsi rokok mereka. Di negara besar seperti Cina, setelah penerapan peningkatan pajak rokok di tahun 2015, di kuartal pertama tahun 2016 market share dari produk rokok menengah dan atas berkurang, sementara untuk produk rokok murah meningkat 6%.

Cina sebagai negara produsen dan konsumen rokok terbesar di dunia, merupakan rumah bagi 30% perokok aktif di dunia. Industri rokok di Cina dikelola oleh The State Tobacco Monopoly Administration. Institusi itu dimiliki negara. Sehingga Negara mengatur pertanian, produksi, distribusi, penjualan dan pemasaran dari semua produk tembakau. Jika Cina mampu menerapkan kebijakan yang signifikan atas produk tembakau, maka negara lain pun seharusnya dapat mengubah sistem perpajakan mereka terkait produk tembakau. Yang terutama seputar pajak dan cukai rokok,” demikian papar Dr. Rong Zheng, Direktur WHO Collaborating Centre for Tobacco Economics.

Mengacu pada prinsip keadilan, maka upaya pengendalian tembakau pun mesti dipahami seperti koin bersisi dua. Seiring dengan upaya mengurangi konsumsi tembakau, upaya pengendalian tembakau pun bekerja bersama para petani tembakau serta pekerja di industri tembakau.

Baik petani dan pekerja (di industri tembakau), telah dieksploitasi dan dimanipulasi oleh raksasa tembakau. Keterlibatan program pengendalian tembakau dengan para petani di India, Bangladesh, Indonesia, dan Filipina, menyimpulkan bahwa sebenarnya para petani itu adalah korban dari industri tembakau itu sendiri, dan perlu langkah yang signifikan untuk itu,” ujar Vandana Shah, Direktur dari South Asia Programs of Campaign for Tobacco Free Kids (CTFK). “Perlu adanya upaya masif untuk mendorong mereka (para petani tembakau) untuk beralih ke komoditi lain.

Terkait dengan alih tanam dari tembakau ke komoditi lain, di perhelatan APACT12th, banyak dipresentasikan oleh banyak kalangan tentang kisah sukses mereka meningkatkan kesejahteraan usai beralih tanam. Sebut saja, pengalaman dari petani tembakau di Temanggung (Jawa Tengah) yang beralih tanam dari tembakau ke komoditi kopi dan sayuran. Menurut mereka, menanam kopi dan sayuran lebih menguntungkan ketimbang tembakau.

Semua yang dipaparkan di atas jelas menegaskan bahwa program pengendalian tembakau adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Tidak hanya dari sisi kesehatan, tapi juga dari sisi ekonomi (kesejahteraan) keluarga.


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

WhatsApp us
%d blogger menyukai ini: