APAKAH POLA ASUH ANDA BENAR?
Tidak bisa dipungkiri bahwa pola asuh yang diterapkan orangtua ikut memengaruhi tumbuh kembang anak di kemudian hari. Orangtua manapun pasti sangat mendambakan memiliki anak-anak dengan pertumbuhan dan perkembangan yang baik (IQ, EQ, dll).
Salah satu hal yang sangat mendukung dan memengaruhi tumbuh kembang anak adalah pola asuh yang kita (orangtua) terapkan.
Pertanyaan mendasar yang wajib dikoreksi oleh kita semua adalah, apakah pola asuh yang kita terapkan sudah tepat atau masih perlu dievaluasi?
Jika anda bertanya kapan waktu yang tepat untuk menerapkan pola asuh kepada anak? Psikiater dan Psikolog Sanatorium Dharmawangsa, Dr. Jusni Solichin, SpKJ, berpendapat, “Waktu yang tepat bagi orangtua untuk menerapkan pola asuh yang benar kepada anak adalah pada saat anak berusia 0-6 tahun.”
Jika diibaratkan seperti bangunan, pada usia 0-6 tahun inilah pembangunan “pondasi” yang tepat. Sehingga jika ada masalah di kemudian hari maka bisa dipastikan “pondasinya” tidak ikut bermasalah.
Selain itu, jangan mengasuh anak secara naluriah. Maksudnya dalam mendidik anak sebaiknya disesuaikan dengan kondisi (zaman) yang ada. Bukan berdasarkan pada pola asuh atau pola didik yang dahulu diterapkan oleh orangtua sebelumnya. Bagaimana pun, zaman sudah berbeda. Demikian diungkapkan Dr. Jusni.
Ada beberapa hal mendasar yang perlu diketahui oleh orangtua:
Anak butuh kasih sayang
Hal mendasar pertama yang perlu diketahui oleh para orangtua adalah anak-anak sangat membutuhkan kasih sayang dan rasa aman. Perwujudan kasih sayang ini sangat bergantung pada orangtua, wujudnya bisa berupa peluk, cium, dan belaian lembut. Ini bukan hal sepele, karena anak yang merasa tidak aman sejak bayi atau memiliki gangguan fisik juga berhubungan dengan kesehatan jiwanya.
Latihan disiplin yang membangun sesuai usia anak
Dengan kondisi butuh kasih sayang di atas bukan berarti anak tidak diberikan pelajaran disiplin sejak dini. Melatih anak untuk disiplin tentunya juga menjadi hal yang ikut membantu perkembangan anak.
- Latih anak anda untuk melakukan apa yang baik, dan ajar juga untuk mengetahui yang benar dan salah.
- Di samping itu, hal yang juga tidak kalah pentingnya adalah menghargai anak dengan kalimat-kalimat positif. Karena pujian adalah vitamin bagi pertumbuhan anak. Sebaliknya, celaan adalah racun untuk anak-anak kita.
- Manusia adalah unik.
Selain hal-hal di atas, ada satu kebiasaan yang dianggap biasa di kalangan masyarakat. Yaitu, membandingkan anak kita dengan anak lain. Disadari atau tidak ini sering dilakukan. Tetapi seharusnya hal ini tidak lagi dilakukan oleh orangtua. Karena pada dasarnya, manusia adalah unik (tidak ada duanya), begitu juga dengan anak anda. Jadi mulai sekarang stop mengatakan, “Si A pintar, kenapa kamu tidak.” Karena itu adalah hal yang percuma.
Asuh anak sesuai dengan usianya
Pola asuh sudah bisa diterapkan sejak anak berada dalam kandungan. Tentunya pola asuh yang anda terapkan harus sesuai dengan usia buah hati. Jika masih dalam kandungan, tentunya yang berperan besar adalah ibu. Jadi, untuk anda yang saat ini berbadan dua jangan sepelekan mengenai pola asuh. Tidak usah menunggu lama. Intinya, jika bisa dilakukan sekarang kenapa harus menunggu besok?
Berbicara mengenai pola asuh saat anak dalam kandungan, Dr. Jusni mengatakan, “Apapun yang dilakukan ibu saat mengandung, sekecil apapun itu akan memengaruhi bayi dalam kandungan.” Jadi, untuk anda (ibu) yang mengandung seyogyanya anda berada dalam kondisi baik.
Dari sisi kesehatan fisik, sebaiknya ibu tetap menjaga kesehatan dengan mengonsumsi asupan yang bermanfaat. Dan untuk para suami, inilah saatnya anda memberikan kontribusi terbaik untuk keluarga.
Fase pertumbuhan dan pola asuh
Fase 1:
Anak dalam fase ini adalah mereka yang masih tergolong bayi yang hidupnya masih bergantung 100 persen pada orang dewasa yang ada di sekitarnya (orangtua, nenek atau kakek, dan bahkan pengasuhnya). Ini adalah saat di mana semua kebutuhan anak harus segera dipenuhi. Dan inilah saatnya anda (orangtua) memberikan rasa aman kepada anak.
Fase Otonomi Diri:
Nah, jika anak sudah bisa berjalan berarti dia sudah masuk dalam fase otonomi diri atau kebisaan diri. Pada fase ini anda akan menemukan anak yang tidak mau diatur. Misalnya, anak anda menolak untuk makan.
Kebanyakan orangtua cenderung memaksa anak jika menemukan kondisi ini, ungkap Dr. Jusni. Padahal pada fase ini, sebaiknya jangan paksa anak anda. “Pada saat lapar pasti anak mau makan,” tambahnya.
Masih berhubungan dengan fase otonomi diri. Pada fase ini seharusnya orangtua memberikan kesempatan pada anak untuk meluaskan ruang lingkup geraknya. Jangan semua hal yang dilakukan anak dilarang. “Jika tidak berbahaya biarkan saja. Tetapi jika yang dilakukan anak sudah mengarah ke hal berbahaya, anda bisa melarang tegas,” ujar Dr. Jusni dengan senyum yang mengembang.
Fase Remaja
Pada fase remaja, orangtua seharusnya bisa menjadi pendengar yang baik untuk anak. Dari hal tersebut akan terjalin hubungan baik antara oranguta dengan anak. Maka, ketika anak beranjak dewasa dia (anak) dengan sendirinya akan bersikap terbuka terhadap orangtua.
Pada saat menginjak remaja, anak akan mengolah kembali hal-hal yang diterapkan orangtua mereka. Termasuk jika pola asuh yang anda terapkan tidak tepat. Dr. Jusni berkata, inilah kesempatan terakhir untuk orangtua memperbaiki sendiri (tanpa bantuan ahli) masalah yang ada. “Akan tetapi, jika masalah ini terus terjadi sampai anak berusia 18 tahun. Maka hal ini sudah mengkristal dalam diri anak. Untuk memperbaikinya diperlukan bantuan ahli (psikiater/ psikolog),” tambah Dr. Jusni.
Program Siaran Anak dan Problema dapat Anda dengarkan pada gelombang 96, 30 RPKfm setiap hari Rabu, pukul 09.00 WIB – 10.00 WIB
(Updated on August 12th 2008 13.36 WIB) |