Kemenkes Ajak Masyarakat Komitmen “STOP” AIDS dan Hapus Stigma yang Salah

Written by on November 29, 2019

Jakarta. Kasubdit HIV AIDS dan PIMS Kemenkes, Dr. Sedya Dwisangka mengajak masyarakat untuk berkomitmen mencegah penularan penyakit tersebut, khususnya para remaja. Hal itu ia paparkan dalam dialog interaktif dengan mahasiswa dan pelajar di Aula Siwabesy, Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta Selatan, pada Kamis (28/11/19)

Dialog yang baru dimulai pukul 14.00 ini berlangsung secara meriah. Mulai dari pemaparan informasi oleh pembicara lalu sesi tanya jawab dengan peserta .Dengan memperingati Hari AIDS Sedunia yang jatuh pada  1 Desember, dialog ini dilaksanakan untuk memberikan edukasi dan pencegahan terkait bahaya penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) kepada para mahasiswa, pelajar, dan guru-guru yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran tersebut.

Dr. Sedya memaparkan langkah yang dilakukan untuk mencegah penularan penyakit tersebut dengan 4 langkah yaitu dengan cara STOP. Huruf S, yaitu Suluh artinya pemaparan harus tahu apa-apa saja yang beresiko dan faktor-faktornya. Kemudian ada T, yaitu temukan apabila terdapat indikasi dengan cara Tes kesehatan. Selanjutnya ada huruf O, Obat, artinya jika terinfeksi harus dilakukan pengobatan, yang terakhir ada P yaitu Pertahankan, artinya pertahankan mengonsumsi obat secara rutin dan pola hidup sehat.

Liana Oktavia, selaku peserta menjelaskan terkait jalannya dialog yang berlangsung secara positif dan berjalan dengan dua arah hingga berbicara tentang stigma yang salah selama ini berkembang di masyarakat. Liana juga merasa bahwa kita juga harus semakin tahu tentang penyakit IMS khusunya AIDS agar kita semakin tahu dan peduli terhadap orang di sekitar kita.

“Oke acara ini bagus banget,karena dialog ini bener – bener memberikan interaksi yang sangat positif dua arah, yaitu dari pembicara dan juga dengan audiens dan dari sini kita bisa tahu stigma apa sih yang sebenernya salah di masyarakat dan stigma mana yang sebenernya harus kita benarkan,” ucap Liana.

Serupa dengan Liana, Dr. Yudo Iriawan juga mengungkapkan hal yang sama terkait stigma. Ia memaparkan bahwa kita masih dibayang-bayangi oleh stigma dan ketakutan untuk peduli terhadap diri sendiri, untuk memeriksa kondisi tubuhnya apakah terpapar  HIV atau tidak , karena hampir setiap orang memiiki resiko terjangkit AIDS yang berawal dari ketidaktahuan dan ketidakmauan untuk datang dan diperiksa secara langsung kepada dokter.

“ Ya seperti yang kita sebutkan tadi ya, kita itu masih hidup di dalam stigma, ketakutan gitu ya. Satu,ketakutan untuk ngecek. Dua, ketakutan untuk berobat. Tiga, ketakutan ada orang lain terhadap pasien itu sendiri. Jadi dia padahal punya resiko tapi dia tidak mau ngecek statusnya, dia takut terkena HIV. Nah itu adalah stigma,” ungkap dr. Yudo

Dr. Yudo juga mengungkapkan pentingya peran keluarga dan teman sebaya untuk mendampingi anak dan juga rekan – rekannya, karena sekalipun ia terpapar HIV yang dijauhi virusnya bukan orangnya. Sehingga ia berharap bahwa stigma yang beredar di masyarakat akhirnya terbantahkan dan seseorang dapat menjalankan pola hidup sehat tanpa merasa takut.

Petrus Christian


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

Positive SSL
WhatsApp us
%d bloggers like this: