Kuliah Umum Pascasarjana UKI, Arsitektur Perkotaan yang Berkelanjutan

Written by on 11 December 2022

Jakarta, RPKFM – Dalam rangka Dies Natalis ke-6 Program Studi Magister Arsitektur Pascasarjana Universitas Kristen Indonesia (UKI) menyelenggarakan Kuliah Umum “Menuju Arsitektur Perkotaan yang Berkelanjutan” yang dilaksanakan secara daring dan tatap muka di Aula Pascasarjana UKI Jl. Diponegoro No. 84-86, Jakarta Pusat, Sabtu (10/12/2022).

Hadir sebagai pembicara dalam kuliah umum ini adalah Prof. Dr.-Ing. Ir. Uras Siahaan, lrr, Prof. Dr. Ir. James E.D. Rilatupa, M.Si, Prof. Dr.-Ing. Ir. Sri Pare Eni, lrr, Prof. Dr. Ir. Charles O.P. Marpaung, M.S., Dr. Ramos P. Pasaribu, S.T., M.T, Dr. Yophie Septiady, S.T., M.Si. Berbicara sebagai Keynote Speaker adalah Prof. Dr. Ir. Arief Sabaruddin, CES, sebagai Peneliti Utama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (Kementerian PUPR).

“Arsitektur esensinya bukanlah membangun gedung, tetapi membangun manusia, sosial manusia dan ekonomi manusia. Menjadi pertanyaan selanjutnya adalah mampukah gedung mengubah perilaku manusia? karena tujuannya utamanya adalah perubahan perilaku manusia melalui arsitektur. Prinsipnya, arsitektur harusnya bisa mengubah perilaku. Kegagalan sustainable development, itu bukanlah gagal dalam rancang bangunnya, tapi gagal mengubah perilaku manusianya,” kata Arief Sabaruddin dalam pembukaan kuliah umum tersebut.

Arief juga menggarisbawahi bahwa arsitektur perumahan berkelanjutan memiliki makna yang jauh dari sekedar arsitektur hijau yang kita kenal. Selama ini, menurutnya arsitektur berkelanjutan tidak sebatas perbaikan dan peningkatan kualitas lingkungan melalui desain dan rancang bangunan bangunan gedung, “Akan tetapi arsitektur berkelanjutan adalah juga masuk pada perubahan habit, perubahan perilaku dari pengguna bangunan secara struktural. Perubahan budaya dibentuk oleh desain bangunan, dengan kata lain desainbangunan mampu mengubah perilaku penggunanya,” tambahnya.

Sementara itu, Dr. Ramos P Pasaribu ST., MT yang membawakan materi “Penerapan Nilai-nilai Kearifan Lokal Nusantara dalam Arsitektur untuk Mengatasi Kekacauan Dunia akibat Perubahan Iklim” menyodorkan gagasan bahwa nilai-nilai kearifan lokal nusantara sebagai warisan asli bangsa dapat menjadi solusi atas setiap kekacauan dunia yang diakibatkan perubahan iklim.

“Kebutuhan hidup manusia untuk bertahan hidup sangat dipengaruhi oleh keseimbangan dari bumi untuk dapat memberikan kebutuhan manusia itu. Untuk itulah nilai-nilai perlu dicari dan diterapkan agar kesadaran manusia dalam memelihara serta memanfaatkan alam saat terjadinya kekacauan bumi dapat muncul,” ujarnya.

Ramos juga memaparkan fakta bahwa mewujudkan kemampuan bumi menyediakan kecukupan kebutuhan manusia untuk bertahan hidup sangat tidak mudah. Selain itu kekacauan bumi akibat perubahan iklim semakin mengancam keberlangsungan kehidupan manusia, seperti kekurangan air minum, laut sekarat, dan udara yang tak layak dihirup. “Hubungan antar perilaku manusia dan alam lingkungannya haruslah harmonis. Kekacauan bumi akibat perubahan iklim, perlu dicarikan penyebab utama dan intervensi dari manusia untuk menggali dan mencari nilai-nilai sehingga mendapatkan kesadaran yang baru.”

Beberapa tindakan individu untuk membatasi perubahan iklim, dinilai Ramos sangat wajib dilakukan sebagai bentuk kesadaran diri dan dimulai dari diri sendiri. Beberapa tindakan ini adalah hemat energi di rumah, jalan kaki, bersepeda atau naik transportasi umum, perbanyak makan sayur, pertimbangkan perjalanan anda, buang lebih sedikit makanan, mengurangi dan gunakan kembali, juga perbaiki dan daur ulang, lalu dengan mengubah sumber energi rumah, beralih ke kendaraan listrik, hingga pilih produk yang ramah lingkungan.

Menutup materinya, Ramos mengatakan bahwa kekacauan dunia akibat perubahan iklim merupakan wujud dari proses dehumanisasi. “Ini wajib untuk dimaknai dengan serius oleh manusia. Kearifan lokal nusantara sebagai wujud intervensi manusia melalui nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat yang terbentuk secara turun temurun ratusan tahun lamanya untuk kontrol terhadap alam dan lingkungan, diharapkan dapat mengurangi proses dehumanisasi itu. Kearifan lokal sebagai warisan pendahulu kita, terbukti dapat menjaga keseimbangan alam dan melestarikan lingkungan.”

pelestarian alam melalui hubungan yang harmonis antara manusia dan sumber daya alam. menjaga hubungan antara manusia dengan tuhan dan sumber daya alam, memelihara dan menjaga SDA, menghargai SDA, kebersamaan antara manusia dan SDA, kepatuhan dalam menjaga hubugan bai antara manusia dan SDA, menjaga kualitas hubungan antara manusia dan SDA, perlindungan antara manusia dan SDA, kasih sayang, kepedulian terhadap manusia dan SDA.


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

Positive SSL