FSB UKI Gelar Konferensi Internasional ‘Archipelagic Flows’, Soroti Perspektif Kepulauan dalam Pembangunan Indonesia
Written by Daniel Tanamal on 21 July 2026
Jakarta, RPKFM — Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Kristen Indonesia (FSB UKI) menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi internasional Archipelagic Flows, yang merupakan konferensi gabungan the 6th Critical Island Studies (CIS) and 31st Performance Studies international (PSi), pada 15-18 Juli 2026.

(Konferensi internasional menghadirkan 7 keynote speakers dari berbagai disiplin ilmu ini dibuka oleh Rektor UKI, Prof. Angel Damayanti.)
Konferensi ini merupakan kolaborasi global antara Critical Island Studies (CIS), Performance Studies international (PSi), dan Universitas Kristen Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, UKI menjadi pusat pertemuan bagi lebih dari 350 akademisi, seniman, dan aktivis dari 35 negara untuk memperkaya kajian ilmiah mengenai ekologi, lingkungan kepulauan, termasuk lautan di dunia.
Konferensi internasional yang menghadirkan tujuh keynote speakers dari berbagai disiplin ilmu itu dibuka secara resmi oleh Rektor UKI, Prof. Angel Damayanti.
Prof. Maria Luisa Torres Reyes, President Critical Island Studies, menjelaskan bahwa kolaborasi antara Critical Island Studies, Performance Studies international, dan UKI diharapkan dapat mengurangi dampak negatif perubahan iklim serta degradasi sumber daya alam, terutama di lingkungan kepulauan.
“Konferensi internasional ini mempertemukan para akademisi, ahli, praktisi berbagai interdisipliner ilmu untuk mencari solusi dari berbagai permasalahan dalam upaya cara menjaga keberlangsungan kelestarian alam yang ada di planet bumi.”
Ditambahkan bahwa beberapa masalah tersebut diantaranya masyarakat adat di kawasan pesisir yang terusir dari tempat tinggal mereka, “rusaknya terumbu karang yang berdampak terhadap ekologi laut. Maka konferensi internasional ini menyoroti pentingnya cara mengelola lingkungan terutama di wilayah kepulauan. Serta pentingnya memperjuangkan hak-hak masyarakat di wilayah pesisir pantai,” tutur Maria Luisa Torres Reyes.

(Mahasiswa UKI mempersembahkan tarian tradisional dalam pembukaan Archipelagic Flows)
Dekan FSB UKI, Susanne A.H. Sitohang, S.S., M.A., mengungkapkan bahwa keberhasilan penyelenggaraan konferensi tingkat dunia ini merupakan hasil kerja sama berbagai pihak serta dukungan penuh Sivitas Akademika UKI.
“Melalui konferensi internasional ini, setiap peserta dapat bertukar gagasan serta belajar dari perbedaan satu sama lain. Saya berharap konferensi ini dapat menjadi agen perubahan kecil yang membawa kita menuju dunia yang lebih baik,” ujar Susanne A.H. Sitohang dalam sambutan pembukaan konferensi.
“Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia adalah negara yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau dan menjadi rumah bagi lebih dari 700 bahasa. Kepulauan Indonesia adalah tempat kami tinggal kami. Setiap pulau di Indonesia memiliki kekayaan budaya dengan ciri khas masing-masing daerah, seperti tarian adat, pakaian adat, rumah adat,” tambah Susanne memperkenalkan Indonesia kepada seluruh peserta konferensi internasional.
Hak Perempuan Nelayan Pesisir atas Akses Ekonomi
Akademisi FSB UKI sekaligus salah satu keynote speaker dalam konferensi ini, Dr.rer.pol. Ied Veda Sitepu, S.S., M.A., membahas tema Hak Perempuan Nelayan Pesisir atas Akses Ekonomi ditinjau dari Perspektif Keadilan Hukum dan Kesetaraan Gender.

(Sesi tanya jawab dengan keynote speakers : Dr.rer.pol. Ied Veda Sitepu, S.S. M.A., Akademisi FSB UKI; Prof. Alex Taek-Gwang Lee dari Kyung Hee University, Korea Selatan; Paul Rae dari University of Melbourne, Australia.)
“Perempuan nelayan memegang peranan vital dalam menopang perekonomian rumah tangga dan masyarakat pesisir melalui keterlibatan mereka dalam perikanan tangkap, pengolahan ikan, pemasaran, serta distribusi produk perikanan. Namun, perempuan nelayan masih kurang diakui sebagai pelaku ekonomi dan tetap terpinggirkan dalam tata kelola perikanan,” jelas Ied Veda Sitepu.
“Meskipun hukum Indonesia secara formal mengakui prinsip kesetaraan dan non-diskriminasi, penerapannya belum memberikan perlindungan hukum yang efektif maupun akses ekonomi yang adil bagi perempuan nelayan. Mereka sebagian besar masih belum tercakup dalam perlindungan hukum ketenagakerjaan dan belum sepenuhnya memperoleh manfaat dari program pembangunan pemerintah,” kata Ied.

(Sesi tanya jawab dengan keynote speakers: Prof. Wening Udasmoro dari Universitas Gadjah Mada dan Syed Farid Alatas sebagai Professor Emeritus dari National University of Singapore)
“Perlindungan hukum bagi perempuan nelayan lebih bersifat formal daripada substantif. Pencapaian keadilan substantif memerlukan kebijakan afirmatif serta penerapan kerangka hukum dan regulasi yang responsif gender secara lebih efektif,” pungkas Ied.
Ied menyarankan agar pemerintah merevisi atau menerbitkan peraturan turunan untuk mendefinisikan dan mengakui secara eksplisit perempuan nelayan sebagai pelaku yang sah. Definisi hukum tersebut, menurutnya, harus mencakup kegiatan pra-panen maupun pascapanen yang melibatkan peran kunci perempuan.

(Keynote speaker Sean Metzger dari the UCLA School of Theater, Film, and Television, menjelaskan materi dalam Archipelagic Flows, di Ruang Seminar UKI Jakarta.)
“Penting menerapkan pengarusutamaan gender dalam program-program perikanan guna memastikan bahwa peningkatan kapasitas, pembiayaan, asuransi, dan keanggotaan koperasi dapat diakses secara setara oleh perempuan,” tambahnya.

(Keynote speaker President International Foundation for Dharma Nature Time, Diane Butler, memaparkan materi dalam Archipelagic Flows, di Ruang Seminar UKI Jakarta.)
Keynote speakers lainnya dalam konferensi internasional ini adalah Prof. Alex Taek-Gwang Lee dari Kyung Hee University, Korea Selatan; Paul Rae dari University of Melbourne, Australia; Prof. Wening Udasmoro dari Universitas Gadjah Mada; Syed Farid Alatas sebagai Professor Emeritus dari National University of Singapore; Sean Metzger dari the UCLA School of Theater, Film, and Television; serta Diane Butler sebagai President International Foundation for Dharma Nature Time.
RPK FM