Polemik Musolla di Kawasan Patung Yesus Tana Toraja, Warga Minta Keterbukaan Pembangunan
Written by Daniel Tanamal on 16 June 2025
Jakarta, RPK FM – Warga Kelurahan Buntu Burake, Makale, memprotes pembangunan Musolla Aisyah di kawasan wisata religi Patung Yesus Memberkati. Proyek yang dibangun tanpa sosialisasi ini memicu polemik, apalagi diketahui peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Kapolres Tana Toraja pada 8 Juni 2025.
Ketegangan merambat ke media sosial, hingga Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) memfasilitasi dialog antara warga, tokoh adat, dan keluarga Aisyah. Pertemuan menghasilkan lima poin kesepakatan: pembangunan dihentikan, bangunan dibongkar, dan proses hukum akan diikuti. Warga juga mempertanyakan peran Kapolres serta menuntut respons cepat dari pemerintah setempat.
Tokoh masyarakat Andarias Parapak menegaskan penolakan bukan soal intoleransi, melainkan penempatan fasilitas ibadah di lokasi yang dianggap simbolik bagi umat Kristen. “Wisata religi Buntu Burake sejak awal memang berkonsep Kristen-Katolik. Kami tidak menolak toleransi, tapi jika dilakukan sepihak, itu bukan bijak. Masjid sudah ada kok di sekitar sini, bahkan hanya 5-10 menit dari lokasi,” ungkapnya.
Ia menyebut Masjid To’ Kaluku dan beberapa masjid di Mandetek, Se’pon, hingga wilayah Kota Makale kerap menjadi tempat salat wisatawan Muslim yang berkunjung ke Burake. Ia mengingatkan bahwa toleransi harus dilakukan dengan saling menghormati dan komunikasi terbuka.
Anggota masyarakat Peduli Harmoni Hidup Kemasyarakatan di Toraja, RD Vius Octavianus, kepada Tribun Toraja, Senin siang, mengatakan, pembangunan musolla ini belum mengantongi ijin mendirikan bangunan (IMB) atau yang sekarang sekarang istilah PBG (Persetujuan Bangunan Gedung).
Selain itu, pembangunan musolla ini juga belum mendapatkanrekomendasi dari FKUB sebagai syarat untuk mendirikan rumah ibadah, sesuai SKB 3 Menteri tentang pendirian rumah ibadah.
“Pak Kapolres Tana Toraja yang melakukan peletakan batu pendirian. Secara tidak langsung Pak Kapolres ini melanggar peraturan karena membangun tanpa IMB dan juga melanggar aturan SKB 3 Menteri tentang pendirian rumah ibadah,” kata RD Vius Octavianus.
Sementara itu, dilansir Tribunnews, Kapolres Tana Toraja AKBP Budi Hermawan memberikan klarifikasi dan jawaban atas polemik pembangunan musolla ini. Dirinya mengaku, awalnya diundang “hajatan” ke kediaman keluarga Aisyah. Disitulah AKBP Budi diminta untuk ikut meletakan batu dalam pembangunan musolla.
Ia mengaku sempat bertanya ke Aisyah soal perijinan. Oleh Aisyah mengatakan sudah menyampaikan secara lisan kepada pemerintah setempat. Budi menceritakan, anggotanya yang bertugas pos penjagaan kerap ditanyakan wisatawan tempat salat. Maka ditunjuklah rumah keluarga Aisyah, sebagai rumah muslim yang bisa ditempati numpang salat.
“Jadi, tidak ada niatan saya dan kami untuk membuat gaduh. Musolla ini juga inisiatif keluarga Aisyah untuk membantu menyiapkan wadah bagi wisatawan yang berniat untuk menjalankan salat tepat waktu. Saya kan juga orang baru di sini, saya sebanyak belajar. Saya kan juga manusia bisa, jadi saya juga luput dari kekeliruan. Tidak ada niatan untuk membuat gaduh,” katanya.
Sampai saat ini pembangunan musolla di tanah milik Keluarga Aisyah yang berada di sekitar portal kedua Objek Wisata Religi Patung Yesus Memberkati di Buntu Burake, tidak berlanjut.
RPK FM