Jerat Mematikan Judi Online dan Pinjaman Ilegal Intai Generasi Muda, Ini Peringatan Tegas Ketua Yayasan Pionir Indonesia
Written by Daniel Tanamal on 20 June 2025
“Pilihan kita hari ini menentukan siapa kita di masa depan. Jangan rusak masa depan hanya karena kesenangan sesaat.” — Stephen William Joseph Tambayong, S.H
Jakarta, RPK FM – Jerat judi online dan pinjaman online (pinjol) ilegal kian menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Mudah diakses, tampak seperti permainan biasa, namun menyimpan bahaya laten yang menghancurkan masa depan, mental, dan bahkan nyawa.
Demikian disampaikan oleh Stephen William Joseph Tambayong, S.H, Ketua Pengurus Yayasan Pionir Indonesia, dalam wawancara eksklusif di kanal youtube MPK Indonesia, Jumat (20/06/2025), mengenai fenomena yang makin meresahkan ini.
“Dulu, berjudi harus ke tempat tertentu, sekarang cukup dari ponsel. Anak SD sudah bisa top-up dan ikut taruhan seperti main Candy Crush,” ungkap Stephen. Ia menegaskan, kemudahan akses inilah yang membuat banyak remaja bahkan anak-anak tergelincir tanpa sadar ke dalam praktik perjudian.
Lebih lanjut, Stephen menjelaskan hubungan erat antara judi online dan pinjaman online. “Setelah kehabisan uang untuk berjudi, mereka mulai meminjam lewat pinjol ilegal. Ini siklus yang berbahaya. Bunga yang mencekik, hingga 5% per hari, membuat mereka makin tenggelam,” ujarnya. Ia menambahkan, tak sedikit pelajar yang memiliki belasan akun pinjol dengan utang ratusan juta rupiah.
Kecanduan Seperti Narkoba
Stephen, yang merupakan putra dari mendiang pejuang anti-narkoba legendaris Indonesia, Jefri Tambayong, tidak segan menyebut kecanduan judi online setara dengan narkoba. “Mental mereka rusak. Mereka menganggap uang bisa didapat instan. Daya juang hilang. Mereka hidup seperti di dunia permainan (games),” katanya. Akibatnya, banyak anak muda kehilangan motivasi, gagal berprestasi, bahkan mengalami gangguan mental serius.
Dampaknya bukan hanya akademik, namun juga emosional dan sosial. Banyak dari mereka yang terlibat berbohong, mencuri uang keluarga, hingga berurusan dengan debt collector akibat utang pinjol.
Peran Keluarga dan Sekolah Kristen
Stephen menekankan bahwa tanggung jawab membentengi generasi muda bukan hanya milik sekolah, tetapi terutama keluarga. Orang tua harus aktif mendampingi, bukan sekadar memberi gadget. “Cek ponsel anak secara rutin. Jangan ragu untuk mengawasi. Lebih baik anak tersinggung daripada menyesal kemudian,” ujarnya.
Ia juga mendorong sekolah-sekolah Kristen dan komunitas gereja untuk proaktif. Yayasan Pionir Indonesia, katanya, siap bekerja sama untuk memberikan penyuluhan tentang bahaya judi dan pinjol.
Langkah Pencegahan dan Penanganan
Beberapa langkah konkret yang bisa diambil, Stephen menyarankan untuk mengedukasi secara serius kepada anak dan orang tua tentang bahaya aplikasi mencurigakan. Memasang sistem pengawasan pada gadget anak, serta embangun relasi emosional yang sehat antara anak dan orang tua.
Ditambahkannya, jika sudah kecanduan, segera konsultasi dengan psikolog atau lembaga rehabilitasi. “Kalau sudah kecanduan, jangan tunda. Bawa ke expertis (profesional). Kami pernah tangani kasus di mana anak kembali berjudi meski sudah disita ponselnya berkali-kali. Artinya, perlu rehabilitasi total,” jelasnya.
Pesan Tegas, Jangan Hancurkan Masa Depan
Stephen menutup dengan pesan yang dalam dan menyentuh: “Pilihan kita hari ini menentukan siapa kita di masa depan. Jangan rusak semua mimpi dan cita-cita hanya karena kesenangan sesaat.”
Ia mengajak seluruh generasi muda untuk tidak tergoda oleh iming-iming kekayaan instan dan gaya hidup semu. “Tetap berjuang. Gapailah cita-citamu dengan kerja keras, bukan dengan jalan pintas,” pungkasnya.
(Daniel Tanamal)
RPK FM