Ramai di Media Sosial, Bagan Surat Pemakzulan Gibran dan Wacana Pembubaran DPR, Kebetulan atau Kebenaran?
Written by rpkfm on 8 August 2025
Jakarta, RPK FM – Peta politik Indonesia tengah diguncang isu panas yang memicu spekulasi liar publik. Surat pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang disebut-sebut dikirim oleh sejumlah purnawirawan TNI ke DPR, kini berkembang menjadi polemik yang jauh lebih besar: wacana pembubaran DPR.
Pengamat politik Pangi Sarwi Chaniago mengungkapkan, munculnya dua isu ini bukan sekadar kebetulan. Ia melihat adanya pola dan keterkaitan yang mencurigakan. “Kalau surat pemakzulan itu tidak masuk ke DPR, saya yakin DPR tidak akan jadi target serangan. Polanya terlihat jelas, ada benang merah antara pemakzulan Gibran dan wacana pembubaran DPR,” kata Pangi, Senin (8/9/2025).
Di media sosial, warganet ramai membedah kronologi peristiwa ini. Bahkan, kini beredar bagan visual yang memetakan hubungan dan urutan kejadian antara isu pemakzulan Gibran dengan wacana pembubaran DPR. Bagan itu menampilkan tanggal, aktor politik, dan langkah-langkah yang diduga menjadi bagian dari skenario besar.
Kemunculan bagan ini memicu kehebohan publik, memancing perdebatan sengit, dan menimbulkan pertanyaan serius: apakah DPR sedang digiring ke dalam jebakan politik tertentu?
Pangi juga menyoroti peran kelompok politik yang ia sebut sebagai “Geng Solo”, yang diduga berada di balik ketegangan politik yang belakangan memuncak. Ia mengkritik sikap pasif para menteri yang dikaitkan dengan kelompok ini, terutama saat peristiwa “Agustus Kelabu” yang sempat memicu gejolak nasional. “Hampir semua menteri dari ‘Geng Solo’ diam seribu bahasa. Mereka tidak menunjukkan keberpihakan kepada rakyat kecil. Ini menimbulkan pertanyaan: siapa sebenarnya yang mereka bela?” sindirnya tajam.
Isu ini juga merembet ke diaspora Indonesia di luar negeri. Banyak warga negara Indonesia di berbagai negara mengaku khawatir, bahkan menilai gejolak politik ini berpotensi melemahkan stabilitas pemerintahan jika tidak segera ditangani.
Menurut Pangi, kunci penyelesaian ada pada transparansi. DPR dan pemerintah diminta segera memberi penjelasan terbuka agar isu ini tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan nasional. “Kalau pemerintah dan DPR terus bungkam, narasi liar akan semakin liar. Pada akhirnya, publik bisa kehilangan kepercayaan, bukan hanya kepada DPR, tapi juga pada negara,” pungkasnya.
Kini, publik menunggu jawaban: apakah ini sekadar dinamika politik biasa, atau pertanda adanya “operasi politik besar” yang bisa mengguncang pondasi demokrasi Indonesia?
Bagan Pemakzulan Gibran VS Bubarkan DPR
(Oleh Diaspora Indonesia)

17 APRIL
Forum Purnawirawan TNI mengeluarkan pernyataan sikap mengusulkan pergantian Wapres Gibran kepada MPR/DPR.
26 MEI
Forum Purnawirawan TNI menyurati MPR/DPR usulan pemakzulan Gibran sebagai Wapres.
2 JUNI
Surat usulan pemakzulan Gibran disampaikan ke MPR/DPR.
2 JULI
Forum Purnawirawan TNI mengancam akan menduduki MPR/DPR jika surat usulan pemakzulan Gibran tidak ditindaklanjuti untuk diproses.
12 JUNI
Jokowi bertemu kelompok Youtuber Nusantara.
6 JUNI
Jokowi menanggapi surat purnawirawan TNI bahwa pemilihan Presiden dan Wapres 1 paket.
3 JULI
Gibran bertemu Youtuber Nusantara.
15 JULI
Pimpinan DPR mengkaji surat pemakzulan Gibran.
25 JULI
Fenomena seruan memasang bendera One Piece berlangsung di semua platform medsos secara serentak.
19 AGUSTUS
Forum Purnawirawan TNI mengirim surat ke MPR/DPR menanyakan tindak lanjut proses surat pemakzulan yang dikirimkan.
15 AGUSTUS
Insiden joget joget anggota DPR setelah rangkaian sidang paripurna.
12 AGUSTUS
Politisi DPR bicara Sulit Cari yang Halal di DPR, Gaji DPR 3P (Pasti) dan Tunjangan Rumah 50 juta.
21 AGUSTUS
Postingan provokatif untuk demo ke DPR di platform medsos X oleh akun @Ndrewstijan, @mas_veel, @Herabotics, @tekad007 yang terindikasi pendukung Gibran.
23 AGUSTUS
Seruan unjuk rasa ke DPR melalui pesan berantai di grup whatsapp dengan redaksi pesan ajakan demonstrasi membubarkan DPR dari kelompok yang mengatasnamakan Revolusi Rakyat Indonesia.
25 AGUSTUS
DPR di demo oleh massa tanpa organisasi, tanpa pimpinan, tanpa tuntutan yang sistematis tetapi dengan tema besar Bubarkan DPR.
29 AGUSTUS
Demonstrasi menyebar di berbagai kota di Indonesia dibarengi dengan aksi anarkis.
28 AGUSTUS
Aksi massa besar bersamaan menyebut aksi Buruh yang mengendarai becak listrik dan driver Ojol.
27 AGUSTUS
Forum Purnawirawan TNI mengirim kembali surat kedua kepada MPR/DPR terkait surat pemakzulan Wapres Gibran untuk segera diproses.
30 AGUSTUS
Rumah anggota DPR (Syahroni, Uya Kuya, Eko Patrio) digeruduk massa dan dijarah.
Catatan Penting: Pemakzulan Gibran VS Bubarkan DPR memakan korban jiwa 10 orang meninggal dunia: Affan Kurniawan di Jakarta, Sarina Wati di Makassar, Saiful Akbar di Makassar, Muhammad Akbar Basri di Makassar, Rusdammangsi di Makassar, Sumari di Solo, Rheza Sendy Pratama di Yogyakarta, Andika Lutfi Falah di Jakarta, Iko Juliant Junior di Semarang, Septinus Sesa di Manokwari. Selain itu ada 1.042 korban kekerasan dialirkan ke rumah sakit dan 3.337 orang ditangkap di 20 kota.
RPK FM