Soraya Hapsari: Dari Panggung Miss Indonesia, Politik, hingga Kuliner Etnik dan Cerita di Jogja
Written by Daniel Tanamal on 6 September 2025
Yogyakarta, RPK FM – Nama Soraya Hapsari mungkin tak asing di telinga publik. Perjalanan hidupnya penuh warna, dimulai dari panggung kecantikan sebagai Finalis Miss Indonesia 2013, lalu menapaki dunia politik, dan kini merambah dunia usaha kuliner di Yogyakarta. Meski kini fokus membangun bisnis, semangat pelayanannya kepada masyarakat tetap menyala, hanya caranya yang berubah.
Ditemui RPK FM di Palagan Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (4/9/2025) Aya, demikian sapaan akrabnya, dua bulan terakhir menetap di Yogyakarta. Awalnya ia datang untuk urusan pekerjaan yang memerlukan keterlibatan langsung. Namun, selama tinggal di kota pelajar ini, ia menemukan sesuatu yang lebih besar, peluang untuk membangun bisnis kuliner sekaligus membangun relasi dengan masyarakat. “Jogja itu potensinya luar biasa. Rasanya seperti Bandung, tiap 50 meter pasti ada coffee shop,” ujarnya sambil tersenyum hangat.
Pengamatan itu membawanya pada keputusan untuk membuka usaha kuliner yang bukan sekadar tempat makan, tetapi juga ruang interaksi yang ramah dan hangat.
Warung BGaya: Rasa Bintang Lima, Harga Bersahabat
Soraya memulai langkahnya dengan mendirikan rumah makan bernama “Warung Bgaya”, sebuah nama yang diambil dari permainan kata namanya sendiri. Juga sebuah warung kopi bernama “Aya Kopi” Ada dua konsep yang ia kembangkan. Pertama, warung dengan menu khas Sunda yang menyasar keluarga dan masyarakat umum. Kedua, tempat nongkrong ala mahasiswa, menurutnya ini seperti seperti warmindo naik kelas, dengan suasana santai dan harga terjangkau.
Menu andalan yang ia tawarkan adalah Ayam Bakakak khas Bandung, lengkap dengan tumisan dan lalapan yang bisa diambil sendiri. Meski cita rasanya bintang lima, Soraya menegaskan bahwa harganya tetap bersahabat dengan kantong warga Jogja. “Yang penting orang bisa makan enak, kenyang, dan tetap merasa dekat. Rasanya premium, tapi tetap merakyat,” katanya penuh keyakinan.
Begitupun dengan Aya Kopi, sebuah “coffee shop lokal” yang menghadirkan kopi kekinian dengan harga ramah mahasiswa. “Kopi di kan harganya luarbiasa, di sini kami buat dengan kualitas yang sama, tapi dengan harga yang lebih terjangkau, khususnya buat anak-anak muda, pasti mereka kan juga suka” ujarnya.
Kedua usahanya ini rencananya akan resmi dibuka pertengahan September, setelah sempat tertunda akibat dinamika politik nasional.
Politik dan Kuliner: Dua Dunia yang Tak Benar-Benar Berbeda
Meski kini dikenal sebagai pebisnis kuliner, Soraya tidak sepenuhnya meninggalkan dunia politik. Baginya, politik dan kuliner sama-sama tentang “melayani dan mendengar aspirasi”. “Sebenarnya mirip, ya. Di politik kita turun ke masyarakat, mendengar aspirasi mereka. Di bisnis kuliner, saya mendengar kritik dan masukan langsung dari warga yang saya temui,” jelasnya.
Ia bahkan mengibaratkan pelanggan seperti rakyat, sementara dirinya adalah pelayan yang siap memperbaiki kekurangan. “Kalau masakan keasinan, saya tidak marah, justru saya perbaiki. Sama seperti di politik, kritik harus jadi bahan perbaikan,” tambahnya.
Dunia politik sendiri sudah ia kenal sejak masih belia. Pernah maju sebagai calon legislatif dari Partai Amanant Nasional (PAN) dan kini bergabung dengan Partai Nasdem, Soraya merasakan langsung pahit-manisnya kontestasi politik. “Waktu itu saya masih muda banget. Suara saya cukup besar, tapi saya merasa kapasitas saya belum siap. Jadi saya parkir dulu, sambil berbenah,” kenangnya.
Meski kini fokus di bisnis, ia tidak menutup kemungkinan suatu saat kembali aktif dalam politik. “Kalau ditanya mau balik lagi? Mau. Tapi untuk sekarang, saya ingin benar-benar fokus membangun usaha dulu,” katanya.
Pesan Bagi Politisi dan Publik Figur
Berbicara soal fenomena selebritas dan publik figur yang terjun ke politik, Soraya menekankan pentingnya kepekaan sosial. “Kalau tidak tahu sesuatu, lebih baik diam daripada melukai orang lain,” ujarnya bijak.
Ia juga mengingatkan agar para pemimpin dan publik figur peka terhadap penderitaan masyarakat. “Kalau rakyat lagi menjerit di bawah, jangan sampai yang di atas terlihat bersenang-senang. Itu bisa sangat melukai hati rakyat,” tegasnya.
Jogja dan Pelajaran Unggah-Ungguh
Selama tinggal di Jogja, Soraya merasa banyak belajar, terutama soal “Unggah-ungguh” dan kebersamaan. “Di Jogja saya merasa diterima dengan hangat. Di sini orang-orang saling menghargai. Itu yang membuat saya jatuh cinta,” ucapnya dengan mata berbinar.
Nilai-nilai itu juga yang ingin ia terapkan dalam bisnisnya. Warung Bgaya dan Aya Kopi bukan hanya tentang makanan dan minuman, tetapi juga tentang “menciptakan ruang yang merakyat dan penuh kehangatan”. “Saya ingin setiap orang yang datang merasa seperti di rumah sendiri,” tutup Sonya dengan senyum penuh semangat.
Dengan langkah barunya ini, Soraya Hapsari membuktikan bahwa seorang perempuan dapat melintasi berbagai dunia, dari panggung Miss Indonesia, arena politik, hingga bisnis kuliner; sambil terus membawa semangat pelayanan kepada masyarakat. Kini, ia mengabdi bukan hanya lewat kata dan kebijakan, tetapi juga lewat rasa, cerita, dan kehangatan di meja makan.
(Daniel Tanamal)
RPK FM