KETIKA SEPAK BOLA BERHENTI MENJADI HIBURAN
Written by rpkfm on 14 July 2026
Apa yang pertama kali terlintas di benak kita ketika mendengar kata sepak bola?
Sebagian orang mungkin akan langsung mengingat klub atau negara favoritnya. Sebagian yang lain mengingat momen bersejarah, gol ikonik, kejadian tak terlupakan, rivalitas, atau pemain yang dikagumi sejak lama. Dengan begitu banyak hal yang melekat pada dunia sepak bola, ada satu hal yang mulai terlupakan, yaitu bagaimana cara menikmati pertandingan itu sendiri.
Menonton pertandingan sepak bola selalu memberikan kenikmatan bagi para penikmatnya. Entah penggemar klub yang bertanding, negara yang menjadi andalannya, atau justru yang tidak menyukai klub atau negara yang bertanding karena berpengaruh terhadap tim dukungannya nanti. Namun, ada yang sedikit berbeda dengan cara kita menikmati sepak bola saat ini. Hadirnya media sosial yang seharusnya menjadi ruang untuk memeriahkan pertandingan justru sering kali disalahartikan.
Pertandingan belum dimulai, tetapi sudah banyak kalimat yang saling menjatuhkan di berbagai platform media sosial. Pertandingan belum berakhir, sudah banyak unggahan ketika ada pemain yang melakukan kesalahan. Yang tadinya dipakai untuk meramaikan, malah berubah menjadi ruang saling menjatuhkan. Tebak skor dan prediksi kemenangan adalah cara banyak orang memeriahkan pertandingan yang sedang berlangsung. Namun, perlahan hal tersebut juga dimanfaatkan sebagai ladang mencari keuntungan sampingan.
Di balik perubahan cara menikmati pertandingan tersebut, ada banyak faktor yang ikut memengaruhinya. Salah satunya adalah ketika sepak bola mulai dipandang bukan lagi sebagai hiburan semata, melainkan memiliki nilai lain di luar pertandingan yang sedang berlangsung.
Sepak bola memang tidak bisa lepas dari budaya judi. Tidak bisa dimungkiri, sejak dahulu perjudian sudah ada ketika pertandingan sepak bola berlangsung. Semakin maju teknologi, semakin marak pula perjudian yang terjadi. Namun, kita bukan ingin membahas tentang judi. Kita ingin mencoba mengembalikan nilai yang perlahan hilang, yaitu menikmati sepak bola. Ketegangan, keterikatan emosional, kebanggaan, dan rivalitas merupakan hal yang biasa dalam sebuah pertandingan. Ketika merasakan hal tersebut saat menyaksikan sepak bola, itulah yang perlahan mulai pudar. Skor akhir menjadi sebuah target. Bukan lagi mengapresiasi permainan yang bagus atau mengakui keunggulan lawan, tetapi berfokus pada hasil akhir yang mendatangkan keuntungan bagi mereka.
Dulu, ketika menyaksikan pertandingan, sedih rasanya jika klub atau negara yang kita dukung kalah. Namun, kita masih bisa menerima dengan lapang dada karena lawan memang bermain lebih baik dan lebih unggul. Saat ini juga masih demikian, tetapi rasa kecewa itu lebih sering disampaikan dengan cara saling menjatuhkan di media sosial. Padahal, kecewa bukanlah sesuatu yang salah dalam sepak bola. Menang dan kalah adalah bagian dari permainan. Yang membedakan adalah bagaimana kita menyikapi hasil tersebut. Ada yang memilih melampiaskan kekecewaan, tetapi ada juga yang tetap mampu mengapresiasi perjuangan timnya.
Berkaca dari negara Jepang, meskipun terhenti di fase babak penyisihan 32 besar oleh Brazil, suporternya justru mengapresiasi mereka. Kecewa sudah pasti, tetapi mereka tahu bahwa Timnas Jepang sudah berupaya dan berjuang hingga mampu mencapai fase 32 besar. Ketika mereka tahu Brazil memang lebih unggul, mereka tetap menantikan kemenangan Jepang. Ketika Timnas Jepang kembali dan tiba di bandara, para suporter menyambut mereka dengan hangat. Pelatih yang langsung mengundurkan diri juga tetap disambut hangat karena telah berhasil membawa Jepang hingga fase 32 besar.
Inilah yang mungkin sudah mulai dilupakan oleh kita sebagai penikmat sepak bola. Kemenangan memang menjadi tujuan, tetapi kalah dengan membawa pelajaran berharga juga merupakan hal yang tidak kalah penting. Bagaimana pelatih meracik strategi di lapangan, bagaimana strategi dan taktik itu dijalankan oleh para pemain, bagaimana peluang gol bisa diciptakan, itulah yang ingin dan dicoba dihadirkan di lapangan. Jika kita gagal menangkap hal tersebut, saya rasa kita harus mulai mencoba menikmati pertandingan sepak bola itu sendiri.
(Eliansen Siregar)
RPK FM