Dibantu Masyarakat, Seorang Perempuan Tionghoa Gagalkan Perdagangan Manusia di Tanjung Priok

Written by on 1 November 2026

Jakarta, RPKFM– Aksi penggrebekkan oleh masyarakat yang membantu seorang perempuan tionghoa itu diwarnai perkelahian sengit antar dua kelompok, antara masyarakat dengan Kelompok Sayap Hitam. Peristiwa yang berlangsung dari suasana gelap hingga terang itu berakhir dengan penangkapan orang-orang Sayap Hitam, sementara Pemimpin Sayap Hitam berhasil melarikan diri. Namun masyarakat bersama polisi berhasil menangani kasus itu dengan cepat.

Begitulah salah satu adegan yang dipertunjukkan teater Njonja Ati Soetji yang berlangsung selama dua hari, pada tanggal 30 dan 31 Oktber 2026, di Ciputra Artpreeur, Kuningan, Jakarta. Pementasan teater yang berlangsung sekitar 120 menit itu sudah berlangsung dengan bagus, dengan sambutan antusias penontong yang hampir memenuhi teater Ciputra Artpreneur yang berkapasitas seribu tempat duduk. Penonton yang hadir begitu sangat tertangkap mengikti setiap adegan.

Mereka bertepuk tangan saat ada adegan menyenangkan dan tertawa saat ada adegan lucu. Dan sering direspon terdiam saat suasana mencekam atau pun tegang. Kreografi dan seting panggung yang baik, dapat membawa suasana pagi, siang, petang, bahkan juga malam hari. Para crew pendukung pementasan yang begerak cepat dan terarah dalam gerak tugasnya dalam melakukan perubahan latar belakang dan situasi serta suasana, membuat pertunjukkan itu bertambah menarik dan asyik dinikmati.

Semua keindahan itu sesungguhnya tidak terjadi begitu saja. Sang penulis naskah, Endah D. Janeru mengaku bahwa untuk menghadirkan pertunjukkan yang disutradarai Wawan Sofwan itu mengungkapkan bahwa awalnya, naskah buatannya itu adalah naskah monolog. Naskahah monolog itu, masih menurut Endah kemudian dikembangkan lagi, “untuk lima orang,” ungkapnya. Naskah monolog untuk lima orang itu kemudian dikembangkan lagi.

“Mendingan kita sekalian besar aja,” katanya mengisahkan bagaimana naskah monolognya itu mengalami perubahan menjadi naskah bagi banyak orang, yang akhirnya justeru melibatkan anak-anak dari Yayasan Hati Suci. “Jadi dibuatlah sekala besar seperti ini,” begitu Endah mengisahkan perjalanan pembuatan naskah pementasan itu. Endah juga mengatakan bahwa pembuatan naskah itu diawali dengan riset, lalu membandingkan dengan beberapa sumber lain sebelum tersusun menjadi sebuah naskah.

Dari fakta peristiwa dan tokoh yang ada berdasarkan penelusurannya, naskah teater itu juga membubuhkan tokoh dan kejadian fiktif. Sekali pun fiktif, namun kisah itu mewakili peristiwa yang sesungguhnya pernah terjadi. “meskipun ada mucikari, tapi namanya bukan Sayap Hitam ‘kan, pasti ada nama lain” begitu paparnya. Peletakkan beberapa peristiwa dan nama fiktif di naskah itu menurutnya dibuat sebagai unsur daya tarik dan harus ada dramatisnya, “harus ada keseruan yang membuat penonton tertarik, untuk betah duduk menonton,” lanjutnya lagi menjelaskan

Lutfi Ardiansyah, pemeran Muhajirin, bujang setia Auw Tjoei Lan atau Nyonya Li, yang malam itu perannya berhasil mendapat perhatian ruangan teater itu mengakui bahwa untuk melakukan perannya ini ia melalui proses yang panjang. Keberhasilan melakoni peran tersebut dibekali kata-kata arahan dari, “Mainkan Saja!”, begitu Lutfi mengisahkan awal keberhasilan dalam perannya sebagai Jirin malam itu. Bahkan hal itu juga tampak dari semua pemeran di malam itu. “Tadi saya merasakan semua mainnya lepas,” begitu ungkap Lutfi. “Enak semua mainnya malam ini,” lanjutnya lagi.

Dari semu rangkaian pementasan itu, menurut Lutfi, masih banyak orang yang tidak tahu Nyonya Hati Suci. “Padahal dia sudah menjadi nama Jalan di daerah Jakarta Pusat,” ungkap Lutfi tentang Nyonya Hati Suci. Oleh sebab itu pesan dari pementasan ini menurut Lutfi adalah untuk melihat bagaimana perjuangan seorang Nyonya Li dalam menentang perdagangan manusia di masanya, dengan keberanian menghadapi kelompok-kelompok kejahatan di zamannya. Masyarakat luas memang patut mengetahui dan mengenal sosok yang diangkat dalam pentas teater oleh Regina Art.

Banyak penonton yang bukan hanya terpuaskan tapi juga tersadarkan dari pementasan teater ini. Diantara penonton datang juga seorang tokoh perempuan yang juga Ketua Umum Partai Setara, Rumondang Sitompul. Ia mengatakan kisahnya menarik, terutama kisah yang diangkatnya tentang perempuan. “Topik yang diangkatnya terlalu biasa, terlalu sederhana,” begitu ungkapnya membuka tanggapan pemantasan tersebut. “Tetapi dari kesederhanaan itu ada sesuatu yang sangat menarik,” tambahnya lagi melanjutkan. Rumondang yang akarab disapa Mak O ini mengakui ada kalimat yang membuatnya terkesima.

Kalimat yang membuat Mak O terkesima adalah tentang ungkapan bahwa mempunyai anak perempuan itu merugi, “Karena dibesarkan dan dipelihara yang akhirnya untuk orang lain,” begitu ujarnya mengungkapkan. Dan penuturan dari pemikiran Auw Toei Lan itu, masih menurut Mak O, menyadarkannya bahwa ternyata nilai perempuan masih di situ. “Tapi kalau dilihat dari jalan ceritanya,” lanjut Mak O, “Saya mau bilang, kekuatan seorang perempuan bisa mengubah sesuatu!” tutur Mak O mengingatkan. Menurtnya cerita pada pertunjukan itu terlihat bagaimana seorang laki-laki yang punya kekuatan terlalu kebanyakan berfikir.

Hal itu berbeda dengan keberanian perempuan, yang mengikuti suara hati dan langsung bertindak. “Yang pasti perempuan tahu tujuan dari tindakannya tersebut,” begitu ujar Mak O yang menganggap kesadaran perempuan untuk bertindak sebenarnya justeru bisa lebih menguntungkan ke depannya, ketimbang dianggap merugikan. “Jadi kaum perempuan harus bangkit untuk mengerjakan kebutuhan negeri ini,” katanya lagi menekankan. “Karena perempuan tahu tujuan dari apa yang dikerjakannya,” begitu ujarnya lagi.

lain lagi dengan Wiranda Leman yang datang dari Cirebon untuk menyaksikan pementasan anaknya, Cloe Leman. “it’s good! bagus bagus!” begitu ujarnya menanggapi pementasan teater tersebut.Wiranda merasa mendapat wawasan baru tentang Auw Tjoei Lan yang berasal dari Majalengka. Tapi ia juga mengakui sudah mengetahui sejak lama adanya Yayasan Hati Suci. “Saya baru tahu bahwa Yayasan itu masih berdiri sampai hari ini,” begitu ujarnya mengungkapkan.

Keadaan ini ternyata juga ditangkap oleh Rahmat Kartono, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka. Rahmat mengatakan Nyonya Li yang disebut pada awal berasal dari Majalengka itu, saat ini tepatnya di sebuah Kecamatan yang bernama Kadipaten. Bagi Rahmat yang menikmati penampilan dari awal hingga akhir, pertunjukan ini sangat luar biasa. Untuk Pariwasata di Majalengka, Rahmat berharap ini bisa menjadi magnet baru bagi Majalengka, “Terutama dalam hal seni teater,” begitu katanya bersemangat.

Hadirnya tokoh Auw Toei Lan yang lahir di Majalengka ini, dengan perjuangannya dalam perlindungan perempuan dan anak ini, diharapkan bisa menginspirasi orang-orang muda di Majalengka. Rahmat juga menuturkan bahwa dari tokoh Nyonya Li yang sebelumnya tidak diketahui, dan setelah diangkat oleh Regina Art kepermukaan, kini harus menjadi kewajiban Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka, “Untuk mengangkat dan memperkenalkan tentang tokoh ini,” kata Rahmat, “dan kiprahnya melalui Yayasan Hati Suci,” lanjutnya menambahkan


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

Positive SSL