Perjuangan Auw Tjoei Lan Diangkat ke Panggung Teater
Written by Argopandoyo Tri Hanggono on 23 October 2026
Jakarta, RPKFM – Kisah seorang perempuan bernama Auw Tjoei Lan diangkat ke pementasan teater di Jakarta. Sosok yang dikenal sebagai nyonya Ati Soetji ini dalam pementasan teater itu berceritera tentang perjuangan perempuan yang membebaskan perempuan dari praktek perdagangan manusia atau human trafficking. Kisah perempuan yang juga dikenal sebagai Nyonya Lie Tjian Tjoen ini dapat kita saksikan pada pertunjukan teater yang berjudul “Njonja Ati Soetji”.
Pementasan yang digagas Regina Art bersama dan Yayasan Hati Suci ini digelar dua hari yaitu, pada tanggal 30 sampai tanggal 31 Oktober 2026 pukul 19.30 WIB di Ciputra Artpreneur, Jakarta Selatan. Pimpinan Regina Art sekali gus Produser Eksekutif pementasan, Joane Win, mengatakan bahwa dirinya sangat bangga mempersembahkan pementasan Teater “Njonja Ati Soetji” ini.
Joane yang juga pemeran Auw Tjoei Lan ini mengatakan bahwa pertunjukkan yang digelar ini bukan hanya mengisahkan tentang perjuangan perempuan di masanya, namun juga sedang membuka peristiwa yang tertutup dan ditutup-tutupi. Harga tiketnya pun terjangkau. Harganya mulai Rp. 250.000,- dan bisa dibeli di Loket.com. Joane berharap pementasan ini dipadati penonton, sesuai dengan kapasitas gedungnya, yaitu sebanyak seribu tempat duduk.

Menurut Endah D. Janeru, dalam penyusunan naskah kisah Auw Toei Lan, ia berhadapan dengan kesulitan tentang gambaran sosok dari Auw Tjoei Lan. Hal itu terjadi lantaran memang sosok Auw Tjoei Lan sama sekali tidak memiliki rekam jejak yang bisa ditemukannya, terutama dalam dunia literasi. Hingga pada satu saat Endah mendapat gambaran tentang sosok seorang Auw Tjoei Lan melalu cucunya, yang dia sapa dengan sebutan Oma Stella. Dari Oma Stella inilah kemudian Endah mendapat gambaran sosok yang akan ditulis sebagai tokoh utama naskah teaternya.
Beberapa gambaran penting tentang sosok utamanya itu antara lain seperti panggilan kepada suaminya. Menurut Endah, Oma Stella memastikan bahwa Opanya Oma Stella selalu disapa dengan sapaan ‘Broer’. Lalu gambaran tentang kedua pasangan itu selalu menggunakan bahasa Belanda dalam keseharian hidupnya, dan beberapa hal lainnya lagi. Selain mengerti tentang gambaran sosok Auw Tjoei Lan, Endah juga menambahkan beberapa tokoh fiktif dalam naskahnya. “, “supaya seru,” demikian ujarnya.

Dan ternyata, kesulitan juga tidak dihadapi oleh sang penulis naskah dari pementasan ini, kesulitan juga dihadapi oleh sang sutradara pementasan ini, Wawan Sofwan. Wawan mengaku setiap kali ia mendapat tugas untuk membuat pertunjukkan biografi, selalu saja mendapatkan tantangan besar. Terlebih lagi, setiap pertunjukkan biografi bukan saja menampilkan sisi fiktif, “tapi juga harus ada sisi historigrafinya,” demikian ungkapnya.
Dan pada sisi itu, suasana yang yang harus ditampilkan adalah suasana yang harus mendekatkan pada data dan fakta yang sesungguhnya, saat Auw Tjoei Lan ada di kehidupan di masanya. Sehingga harus mencari cara untuk bagaimana mendapatkan sumber keadaan masa lampau, agar menghadirkan unsur suasana pada masa tahun itu di pertunjukkan pada masa sekarang.
Sosok Auw Tjoei Lan adalah seorang wanita yang lahir di Majalengka, Jawa Barat, tanggal 17 Februari 1889. Ia adalah pahlawan kemanusiaan yang mendedikasikan hidupnya untuk melindungi perempuan dan anak-anak dari praktik perdagangan manusia (human trafficking) dan eksploitasi manusia pada masa pemerintahan Kerajaan Belanda di Batavia.
Tercatat bahwa bersama Perkumpulan Ati Soetji, yang didirikannya, Auw Tjoei Lan tidak hanya menampung anak-anak yatim piatu dan anak-anak telantar, namun melalui perkumpulan yang didirikan tahun 1914 itu, Auw Tjoei Lan terjun langsung menyusup ke pelabuhan. Perempuan itu berani menghadapi para mucikari yang menjual belikan perempuan, dn Auw Tjui Lan membebaskan perempuan para korban penyelundupan.
Dari keberaniannya itu, Auw Tjoei Lan menerima penghargaan kehormatan Ridder in de Orde van Oranje-Nassau dari pemerintah Kerajaan Belanda di tahun 1935. Perkumpulan Ati Soetji pada saat ini menjadi Yayasan Hati Suci, yang masih menjalankan perjuangan Auw Tjoei Lan. Wakil Ketua Rumah Hati Suci, Wenny mengatakan, pelayanan yang dilakukan bagi anak-anak yatim piatu dan anak-anak terlantar bahkan korban kekerasan rumah tangga, kini sudah banyak yang di masa dewasanya berpendidikan tinggi dan memiliki tingkat kehidupan sosial yang sangat baik. Alumninya sudah ada yang menjadi pengusaha, pengacara, dan lainnya.
Dan secara lengkap pertunjukkan teater “Njonja Ati Soetji” ini mendapat dukungan aktif dari Pementasan ini didukung Ciputra Artpreneur, juga BFI Finance, lalu Alcester, kemudian Regina Realty, demikian juga Sariayu Martha Tilaar, serta Le minerale. Dengan support yang kuat itu, pementasan ini menampilkan lakon seperti lakon Nyonya Lie (Auw Tjoei Lan) yang diperankan Joane Win, Lalu lakon Sayap Hitam yang diperankan Maudy Koesnadi, lalu lakon Nonna Kneefel diperankan Tika Bravani, kemudian lakon Jirrin, diperankan Lutfi Ardiansyah, lakon Suyun diperankan Chloe, kemudian lakon Gerry Van Walsem diperankan Willem Bievers, lakon Seng Hoe diperankan Jim Lim, lakon Tuan Lie diperankan oleh Haikal Mubarok, lakon Buron diperankan Andri Surawan, dan akhirnya lakon Jagal diperankan Andi Solohin.
RPK FM