PDPI Soroti Darurat TB & Dampak Gangguan Tidur

Written by on 4 March 2026

RPKFM, Jakarta — Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyoroti lonjakan kasus Tuberkulosis (TB) di Indonesia dan tingginya gangguan tidur dalam peringatan World TB Day dan World Sleep Day (3/3/26). Ketua Umum PP-PDPI, Dr. dr. Arief Riadi Arifin, Sp.P (K), MARS, FISR., menegaskan kedua isu ini menjadi perhatian serius dunia kesehatan.

Dengan tema “Yes! We Can End TB: Lead by Countries, Powered by People!”, PDPI menyatakan eliminasi TB bukan hanya persoalan medis, tetapi juga sosial dan membutuhkan komitmen nasional. Dr. Arif menyebut Indonesia kini peringkat kedua dunia kasus TB. “World TB Day ini mengingatkan kita bahwa perjuangan melawan tuberkolosis belum selesai. Indonesia masih mengalami beban TB yang tinggi. Karena itu, deteksi dini, pengobatan tuntas, pencegahan resistensi obat serta pengurangan stigma harus terus kita perkuat secara sistematis dan kolaboratif,” tandasnya.

Data global menunjukkan 10,7 juta kasus TB per tahun dengan 1,2 juta kematian. Di Indonesia, estimasi mencapai 1,1 juta kasus, namun yang terdeteksi baru sekitar 600 ribu. Kesenjangan ini menandakan masih banyak penderita belum terdiagnosis dan berpotensi menularkan.

Ketua Pokja Infeksi PP-PDPI, Dr. dr. Irawaty Djaharuddin, Sp.P(K), FISR, MHPE., menegaskan TB juga berdampak sosial ekonomi. “Tuberkolosis paling banyak menyerang kelompok usia produktif sehingga berdampak pada stabilitas ekonomi keluarga serta produktivitas nasional. Stigma dan diskriminasi terhadap pasien TB juga masih menjadi hambatan deteksi dini dan keberhasilan terapi,” ungkapnya. Ia juga mengingatkan ancaman TB Resisten Obat (TB-RO) akibat pengobatan tidak tuntas.

“Keberlanjutan pembiayaan program nasional TB, khususnya TB-RO dan dukungan pemerintah sangat diperlukan terutama percepatan integrasi sistemik program TB dan TB-RO dalam Pembiayaan Kesehatan Nasional,” tandas Dr. Irawaty. Ia menegaskan, “TB ini bukan aib. TB bukan kutukan. TB adalah penyakit medis yang bisa diobati sampai sembuh apabila ditangani dengan benar.”

Selain TB, PDPI menyoroti gangguan tidur yang dialami 30–45% orang dewasa. Ketua Pokja Sleep Apnea PDPI, Prof. Dr. dr. Allen Widysanto, Sp.P, menjelaskan Obstructive Sleep Apnea (OSA) sebagai gangguan yang sering tak terdiagnosis. “OSA adalah kondisi terjadi sumbatan berulang pada saluran napas bagian atas saat tidur yang menyebabkan henti napas sesaat (apnea) dan napas dangkal (hypopnea). Keadaan ini dapat terjadi puluhan kali bahkan ratusan kali dalam satu malam tidur,” jelasnya.

Sekitar 1 miliar orang di dunia mengalami OSA dan 80% kasus tidak terdiagnosis. Gejalanya antara lain mendengkur, henti napas saat tidur, kantuk berlebihan, sakit kepala pagi, dan gangguan konsentrasi. Prof. Allen menegaskan dampaknya bukan hanya medis, tetapi juga sosial ekonomi. “Studi global menunjukkan bahwa beban ekonomi akibat OSA yang tidak tertangani mencapai miliaran dollar setiap tahun dan jika tidak tertangani secara dini dan sistematis, dampaknya akan semakin besar terhadap sistem kesehatan nasional,” ujarnya.

PDPI mengajak masyarakat lebih peduli terhadap deteksi TB dan kualitas tidur. “Kami percaya bahwa tidur yang berkualitas dan cukup adalah investasi kesehatan jangka panjang suatu bangsa. Mari kita jadikan momentum Hari Tidur Sedunia ini sebagai gerakan untuk Indonesia yang lebih sehat,” ajak Prof. Allen.


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

Positive SSL