PDPI: Tidur Berkualitas adalah Investasi Kesehatan Bangsa
Written by Daniel Tanamal on 4 March 2026
RPKFM, Jakarta — Kasus Tuberkolosis (TB) yang terus melonjak di Indonesia dan masalah gangguan tidur menjadi sorotan serius oleh Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PP-PDPI) Dr. dr. Arief Riadi Arifin, Sp.P (K), MARS, FISR., dalam rangka memperingati dua momentum penting kesehatan global, yakni Hari Tuberolosis Sedunia (World TB Day) dan Hari Tidur Sedunia (World Sleep Day) yang berlangsung secara daring (3/3/26).
Berkenaan dengan Hari Tidur Sedunia yang diperingati pada 13 Maret mendatang, Dr. Arif menegaskan bahwa tidur yang berkualitas penting sebagai pilar kesehatan. Gangguan tidur akan berdampak langsung pada kesehatan, respirasi, imunitas dan kualitas hidup seseorang. ”Dalam praktik pulmonologi, pendekatan kita bersifat komprehensif, tidak hanya mengobati penyakit tetapi juga meningkatkan kualitas hidup. Tentunya, PDPI terus berkomitmen untuk berperan aktif dalam edukasi, peningkatan kompetensi sejawat, serta advokasi kebijakan berbasis bukti sebagai penguat komitmen secara bersama menuju Indonesia bebas TB dan masyarakat yang lebih sehat melalui tidur yang berkualitas,” tuturnya.
Gangguan Tidur Vs Kualitas Tidur
Dalam rangka memperingati Hari Tidur Sedunia (World Sleep Day) yang mengusung tema global “Sleep Well, Life Better”, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyoroti pentingnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas tidur.
Secara global, gangguan tidur diperkirakan dialami oleh 30-45% populasi dewasa. Ketua Pokja Sleep Apnea Prof. Dr. dr. Allen Widysanto, Sp.P menuturkan bahwa salah satu gangguan tidur yang paling sering namun kurang disadari oleh klinisi dan masyarakat namun berdampak besar bagi kesehatan, produktivitas dan kualitas hidup masyarakat adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA).
”OSA adalah kondisi terjadi sumbatan berulang pada saluran napas bagian atas saat tidur yang menyebabkan henti napas sesaat (apnea) dan napas dangkal (hypopnea). Keadaan ini dapat terjadi puluhan kali bahkan ratusan kali dalam satu malam tidur,” kata Prof. Allen.
Mengenai OSA, data internasional menunjukkan bahwa sekitar 1 miliar orang di dunia mengalami OSA derajat ringan hingga berat. Untuk kasus Asia, khususnya di Indonesia, prevalensinya meningkat seiring dengan bertambahnya angka obesitas dan perubahan gaya hidup.
Menurut Porf. Allen, masalah utamanya bukan hanya tingginya prevalensi melainkan rendahnya angka diagnosis. Diperkirakan 80% kasus OSA tidak terdiagnosis karena kurangnya kewaspadaan masyarakat dan tenaga kesehatan. Selain itu, fasilitas pemeriksaan seperti polisomnografi sebagai alat diagnostik OSA juga masih terbatas pada kota besar serta terapi OSA yang seringkali tidak mampulaksana.
”Data nasional di Indonesia masih terbatas, namun studi lokal OSA cukup banyak ditemukan khususnya pada kelompok pasien obesitas, hipertensi resisten, penderita DM tipe 2 dan pekerja dengan tuntutan konsentrasi tinggi seperti pengemudi,” kata Prof. Allen.
Gangguan tidur merupakan spektrum kondisi medis yang mempengaruhi kualitas, durasi dan pola tidur seseorang. Secara umum, gangguan tidur dapat dibagi menjadi beberapa kelompok utama seperti:
- Insomnia: kesulitan memulai atau mempertahankan tidur
- Sleep-related breathing disorders: gangguan napas saat tidur, termasuk Obstructive Sleep Apnea
- Gangguan Hipersomnia: rasa kantuk berlebihan di siang hari
- Parasomnia: Perilaku abnormal saat tidur seperti sleep walking, sleep talking
- Restless Leg Syndrome: dorongan tidak tertahanakan untuk menggerakkan kaki saat malam hari
- Gangguan ritme sirkadian: gangguan jam biologis tubuh.
Gejala utama OSA
Gejala utama OSA meliputi: mendengkur, henti napas saat tidur, tersedak/ terbangun dengan rasa tercekik, kantuk berlebihan di siang hari, sakit kepala pagi hari, konsentrasi menurun, dan perubahan suasana hati menjadi mudah marah.
OSA: Masalah Medis, Sosial dan Ekonomi
Prof. Allen menandaskan bahwa OSA bukan hanya masalah medis, tetapi juga menjadi masalah sosial dan ekonomi suatu negara. Dampaknya cukup serius, di antaranya peningkatan risiko kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja akibat rasa kantuk yang berlebihan, penurunan produktivitas kerja, biaya pengobatan komplikasi seperti stroke dan penyakit jantung, obesitas, gangguan metabolisme, serta pengentalan darah. Hal tersebut akan menjadi beban sosial dan ekonomi bagi keluarga dan negara. ”Studi global menunjukkan bahwa beban ekonomi akibat OSA yang tidak tertangani mencapai miliaran dollar setiap tahun dan jika tidak tertangani secara dini dan sistematis, dampaknya akan semakin besar terhadap sistem kesehatan nasional,” ujarnya.
Menyambut peringatan ”Hari Tidur Sedunia” pada 13 Maret 2026 mendatang, berikut ini pesan penting Prof. Allen yang perlu diperhatikan:
- Jangan menganggap remeh mendengkur dan rasa kantuk yang berlebihan.
- Jika Anda atau anggota keluarga mengalami gejala OSA, segera konsultasikan ke dokter.
- Jaga berat badan ideal.
- Terapkan pola hidup sehat: olahraga teratur, hindari rokok dan alcohol serta jaga kebersihan tidur (sleep hygiene).
- Ingatlah bahwa tidur adalah kebutuhan biologis dasar untuk restorasi sel tubuh Anda.
- Dengan kualitas dan durasi tidur yang baik, kita meningkatkan seluruh kesehatan organ kita, kesehatan mental serta produktivitas kerja.
Prof. Allen berpesan agar masyarakat mulai menjadikan tidur sebagai prioritas biologis dasar untuk perbaikan sel tubuh. Tidur yang cukup sesuai dengan usia dan jangan biasakan balas dendam tidur karena begadang. Untuk orang dewasa sekitar 8 jam, sedangkan anak-anak perlu waktu lebih lama. Tidur cukup bukanlah sebuah kemalasan, melainkan investasi kesehatan jangka panjang.
”Kami percaya bahwa tidur yang berkualitas dan cukup adalah investasi kesehatan jangka panjang suatu bangsa. Mari kita jadikan momentum Hari Tidur Sedunia ini sebagai gerakan untuk Indonesia yang lebih sehat,” ajak Prof. Allen.
RPK FM