Pimpinan Baru UKI 2026–2030 Diminta Satu Frekuensi dan Lincah Hadapi Tantangan Zaman
Written by Daniel Tanamal on 15 August 2026
Jakarta, RPKFM — Universitas Kristen Indonesia (UKI) memasuki periode kepemimpinan 2026–2030 dengan semangat memperkuat tata kelola, sinergi antarunit, serta kesiapan menghadapi perubahan di dunia pendidikan tinggi. Para pimpinan baru UKI diminta memiliki kesatuan visi, semangat melayani, serta kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, regulasi, dan dinamika global.
Hal tersebut disampaikan Rektor UKI, Prof. Angel Damayanti, seusai pelantikan dan serah terima jabatan kepala lembaga, pimpinan fakultas, serta pimpinan program pascasarjana UKI periode 2026–2030 di Auditorium Graha William Soeryadjaya, Kampus UKI Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Prof. Angel menegaskan, kesamaan arah dan semangat pelayanan menjadi fondasi penting bagi jajaran pimpinan baru dalam menjalankan tugasnya.
“Intinya, yang pertama, kita semua harus tadi disampaikan oleh Ketua Yayasan, yaitu satu frekuensi. Frekuensi yang sama, semangat melayani, bukan dilayani,” ujar Prof. Angel.
Menurutnya, jabatan kepemimpinan di lingkungan perguruan tinggi bukan sekadar posisi struktural, tetapi bagian dari panggilan untuk melayani dan menjalankan tanggung jawab akademik secara bersama-sama.
“Satu bagian dari panggilan semua yang terpilih menjadi pemimpin yang melayani, pemimpin yang berjiwa hamba. Dengan semua tugas hari ini, tridharma dengan segala tuntutan perguruan tinggi, para pemimpin ini harus siap melayani. Siap bersama-sama membangun uki sehingga visi uki emas itu tercapai. Itu yang paling penting,” katanya.

Menghadapi Tantangan AI hingga Globalisasi
Prof. Angel menyebut tantangan perguruan tinggi saat ini semakin kompleks. Selain tuntutan pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, institusi pendidikan juga harus merespons perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), teknologi informasi dan komunikasi, perubahan regulasi, serta dinamika globalisasi.
“Tantangan hari ini tuh banyak banget, mulai dari etika penggunaan AI, penggunaan teknologi komunikasi informasi, regulasi yang berubah, dinamika atau globalisasi universitas masuk ke Indonesia, Sebenarnya tantangannya banyak, tapi saya percaya UKI ini didirikan dengan mimpi yang besar dari para founding fathers. Dan kami yang menjadi pemimpin hari ini mendapat panggilan untuk meneruskan mimpi itu, visi itu, menggenapi visi itu,” ujarnya.
Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, ia menekankan pentingnya keyakinan bahwa UKI tidak berjalan sendiri. Dukungan dari berbagai pihak, baik internal maupun eksternal, menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan universitas.
“Dan kami percaya kami tidak sendiri. Kami ada Tuhan yang luar biasa, yang memberikan hikmat, sehingga kita bisa memahami apa yang harus kita lakukan.”
Ia juga menyoroti pentingnya jejaring kemitraan yang telah dibangun UKI, baik di dalam maupun luar negeri, termasuk dukungan dari para alumni.
“yang mensupport, ada mitra dalam dan luar negeri, sehingga dengan banyaknya jejaring itu sebenarnya, dan alumni juga jangan lupa, itu juga menjadi jejaring yang sebenarnya mitra-mitra yang memperkuat bukti, artinya kami tahu kami gak sendiri ada Tuhan dan ada banyak pihak yang bisa mensupport kami,” katanya.

Visi UKI Emas Didorong melalui Pemberdayaan
Dalam kepemimpinan periode 2026–2030, visi UKI Emas akan diterjemahkan ke dalam program dan indikator kinerja yang lebih operasional. Prof. Angel mengatakan, proses tersebut akan diawali dengan pembekalan kepada jajaran pimpinan.
“Bagaimana implementasi untuk program ini di depan? Kita akan turunkan semua dalam praraker pembekalan tentang visi kita, apa saja yang akan dilakukan,” jelasnya.
Menurutnya, perubahan regulasi juga menuntut adanya penyesuaian indikator kinerja utama hingga ke tingkat operasional. Karena itu, pembagian tugas dan tanggung jawab setiap unsur pimpinan perlu disusun secara jelas.
“Karena regulasi berubah jadi indikator kinerja utamanya juga kita turunkan secara operasional di UKI akan bagaimana, tugas dekan seperti apa, wakil dekan, ketua pro di lembaga, semua. Yang ada rektor pun dengan wakil-wakil rektornya masing-masing ada pembagian tugas seperti apa, operasionalisasinya bagaimana.”
Penyusunan tersebut, lanjut Prof. Angel, akan dilakukan dengan dukungan Yayasan UKI. “Nah itu disusun tentu dengan support dari Yayasan karena kami gak bisa sendiri, tentu ada support dari Yayasan dan arahan bimbingan.”
Ia menjelaskan, istilah “EMAS” dalam visi UKI EMAS tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian institusi, tetapi terutama sebagai upaya pemberdayaan seluruh unsur yang ada di lingkungan UKI.
“Dan percaya visi EMAS. Empowerment, memberdayakan semua yang ada di dalam UKI dan alumni, itu bagian dari pemberdayaan tadi, mahasiswa, tendik, kita dukung, kita dorong untuk mencapai potensi maksimum mereka.”

Kepemimpinan Harus Lincah dan Berorientasi Keberlanjutan
Menghadapi perubahan yang cepat, Prof. Angel menilai kepemimpinan UKI harus memiliki kemampuan beradaptasi dan membaca peluang. Kepemimpinan juga tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian dalam satu periode, tetapi harus mempersiapkan keberlanjutan institusi.
“Kita harus lincah, kita harus pandai membaca peluang, kita harus siap adaptif, berubah, bertransformasi, membuka jejaring dan lain sebagainya. Intinya lincah atau gesit menghadapi tantangan yang ada dan sustainability.”
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan periode 2026–2030 harus menjadi bagian dari proses jangka panjang UKI. “Apa yang kami kerjakan bukan hanya untuk satu periode. Kami sedang mempersiapkan ugi yang berkelanjutan. Sehingga kalaupun nanti kami berakhir ke pemimpinan, generasi yang selanjutnya, kepemimpinan yang selanjutnya tetap mampu melanjutkan apa yang menjadi mimpi dari para forward-forward kita. Itu dia.”
Kesatuan Hati Menjadi Kunci
Lebih jauh, Prof. Angel menempatkan kesatuan hati dan pikiran atau “sehati sepikir” sebagai salah satu kunci kepemimpinan UKI ke depan. Menurutnya, kesatuan tersebut penting untuk membangun persatuan dan kerukunan di antara pimpinan maupun seluruh elemen universitas.
“Harapan saya adalah Yang pasti yang kami harapkan adalah kita sehati. Sehati sepikir, karena ketika kita sehati sepikir, disitu ada bersatu, kesatuan. Dan saya percaya sekali, firman Tuhan bilang, di mana ada kerukunan, di mana ada persatuan, disitu ada pergatuan. Sehingga saya percaya yang penting, bersatu dulu.”
Prinsip tersebut juga berkaitan dengan semangat pelayanan yang menjadi dasar kepemimpinan di UKI. “Bukan dilayani, melakukan semua itu seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Saya percaya Tuhan sendiri yang akan berkati.”
Yayasan: UKI Harus Semakin Berdampak
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan UKI, Dr. David Maruhum Lumban Tobing, S.H., M.Kn., menyampaikan harapan agar para pimpinan yang dilantik memiliki kesamaan arah dalam menjalankan tanggung jawab kepemimpinan.
“Hari ini kita semua satu frekuensi dengan semangat melayani agar visi UKI EMAS dapat tercapai. UKI EMAS bukan hanya tentang universitas yang semakin unggul, tetapi tentang universitas yang semakin berdampak bagi gereja, bangsa, negara, dan kemanusiaan,” kata David.
Pelantikan tersebut dihadiri Rektor dan Wakil Rektor UKI periode 2022–2026, Ketua dan Sekretaris Senat Universitas, para guru besar, pimpinan universitas, fakultas, lembaga dan unit kerja, Rektor UKI Paulus beserta jajaran, Ketua IKA UKI, serta perwakilan tenaga kependidikan dan mahasiswa UKI.
Pelantikan dan serah terima jabatan ini menjadi momentum estafet kepemimpinan sekaligus penguatan tata kelola UKI untuk periode 2026–2030. Melalui kepemimpinan baru, UKI diharapkan semakin mampu memperkuat sinergi dan kolaborasi antarunit kerja, menerjemahkan visi UKI Emas ke dalam kinerja yang terukur, serta menghadirkan pendidikan tinggi yang relevan, adaptif, berkelanjutan, dan berdampak bagi masyarakat.
RPK FM