Diego Maradona Berpulang, Kembali ke Tangan Tuhan

Written by on November 26, 2020

Tahun 2020 hanya menyisakan satu bulan lagi, namun kisah sedihnya belum berhenti. Legenda sepakbola dunia asal Argentina, Diego Maradona tutup usia dikediamannya di Tigre, Buenos Aires, pada Rabu (25/11/2020) malam WIB, dalam usia 60 tahun. Dugaan serangan jantung, menjadi penyebab kematiannya. Kabar duka ini disampaikan langsung oleh media lokal setempat dan segera menyebar ke pelosok dunia.

Karir Pemain Profesional

Pemilik nama lengkap Diego Armando Maradona Franco ini, lahir di Lanus, sebuah kota kecil di ibukota Argentina, 30 Oktober 1960. Talenta olah bolanya ditemukan oleh pencari bakat Francisco Cornejo, seorang pelatih tim muda Argentinos Junior, saat usia pemain berjuluk “El Pibe The Oro” (Golden Kid) baru genap delapan tahun.

Karir profesionalnya dimulai di tim senior Argentinos Junior sejak 1976, hingga ia direkrut Boca Juniors lima tahun kemudian. Usai penampilan yang cukup mengesankan di Piala Dunia 1982, raksasa Spanyol, Barcelona merekrutnya selama dua tahun, dengan memecahkan rekor transfer dunia. Hanya dua tahun di Spanyol, klub Italia, Napoli merekrutnya hinggat 1991. Masa keemasan Maradona tercatat di Piala Dunia Meksiko 1986 saat memimpin negaranya Argentina menjadi kampiun usai mengalahkan Jerman Barat 3-2 di final. Di Piala Dunia ini juga, Maradona membuat kontroversi dengan mencetak “Gol Tangan Tuhan” saat menghadapi Inggris. Di masa ini pemain-pemain kaliber dunia seperti Pele, Johan Cruyff, Michel Platini hingga Lotthar Matthaus mengakui kehebatan Maradona.

Empat tahun kemudian di 1990, ulangan final 1986 terjadi di Italia. Kali ini Jerman Barat yang berhasil membalas Argentina 1-0. Publik Argentina masih berharap pada sentuhan Maradona di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat. Sayang, penggunaan doping obat terlarang membuat karir internasional Maradona selesai. Ditingkat klub, Maradona masih sempat mencoba peruntungannya melalui Sevilla, lalu pulang kampung dan bermain bagi Newell’s Old Boys, dan di 1995 bersama Boca Juniors menjadi panggung terakhir untuknya sebelum gantung sepatu di 1997. Sebanyak 259 gol ia torehkan di 491 pertandingan klub, dan 34 gol di 94 pertandingan bersama timnas Argentina.

Karir Pelatih

Maradona tercatat delapan kali menjadi pelatih profesional sepakbola. Dari semuanya itu, menjadi pelatih Timnas Argentina pada 2008-2010 adalah yang paling fenomenal. Dirinya berhasil membawa Tim Tango di perempatfinal Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Kampanye besar menjadi juara dunia dengan membawa The Young Guns Argentina yang saat itu diisi oleh nama-nama besar seperti Lionel Messi, Gonzalo Higuain, Sergio Aguero, Angel Di Maria hingga Javier Mascherano, dihentikan oleh Timnas Jerman di perempatfinal melalui skor 4-0.

Kehidupan Pribadi

Diluar lapangan, Maradona banyak melakukan aksi sosial terutama untuk isu kemiskinan, yang cukup mendapatkan perhatian dari lensa para jurnalis. Beberapa petinggi politik dan sosial didekatinya hingga rohaniawan seperti Paus Yohanes Paulus II dan Paus Francis. Selain itu pandangan politiknya cukup unik, dengan mendeklarasikan diri mendukung gerakan anti imperialisme dan berkawan dengan dua mendingan sosialis di Amerika Selatan, Fidel Castro dan Hugo Chavez. Aksi sosial dan kepeduliannya terhadap anak-anak sempat diganjar melalui penghargaan “True Justice” yang diberikan Ratu Inggris, Elizabeth II di Oktober 2015.

Fanatisme sepakbola di Argentina demikian tinggi, hingga membuat sebagian orang memuja Maradona bak dewa. Ini dibuktikan dengan didirikannya sebuah gereja bernama “Iglesia Maradoniana”, oleh tiga fanatis Maradona, yaitu Hector Campomar, Alejandro Veron, dan Hernan Amez di Rosario pada 30 Oktober 1998. Oleh catatan media setempat, saat ini jumlah jemaatnya berjumlah 120-200 ribu orang, beberapa diantaranya yang berlebihan menyebut Maradona sebagai Tuhan dengan slogan “D10S” (Dalam Bahasa Spanyol Dios berarti Tuhan dan 10 adalah nomor punggung abadi Maradona).

Masalah Kesehatan

Sejak 1980, isu kesehatan kerap menerpa Maradona dengan penggunaan obat terlarang yang beberapa kali kerap terekam kamera. Puncaknya di Piala Dunia 1994, penggunaan obat yang membuatnya hengkang dari dunia sepakbola internasional. Setelahnya masalah obesitas, alkohol dan beberapa masalah hepatitis kerap menerpanya. Sejak 2015, kesehatannya kerap menurun dan sempat keluar masuk rumah sakit.

Tutup Usia

Di awal November 2020, Maradona didiagnosa mengalami pembekuan darah di otak atau yang disebut hematoma subdural. Sebuah tim kedokteran yang dipimpin oleh Dr Leopoldo Luque akhirnya melakukan operasi terhadap Maradona pada Selasa (3/11/2020), dan berjalan lancar. Pulih dari operasi, Maradona tinggal di sebuah rumah di Tigre, Buenos Aires. Hingga dirinya kembali ke tangan Tuhan, Rabu (25/11/2020) malam WIB. Adios Maradona!


Reader's opinions

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


RPK FM

Education & Infotainment Station

Current track
TITLE
ARTIST

Positive SSL
%d bloggers like this: