GPM Lantik Pengurus Rote Ndao, Tegaskan Daerah Perbatasan sebagai Penjaga Batas Negeri
Written by Daniel Tanamal on 9 July 2026
Jakarta, RPKFM – Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) resmi mengukuhkan kepengurusan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Kabupaten Rote Ndao periode 2026–2029 dalam sebuah pelantikan yang berlangsung di Desa Pilasue, Kecamatan Rote Selatan, Jumat (3/7/2026). Momentum tersebut tidak hanya menjadi awal kepengurusan baru, tetapi juga menegaskan komitmen organisasi dalam mendorong pemberdayaan masyarakat di wilayah perbatasan melalui penguatan ekonomi dan pembangunan desa.
Pelantikan yang dirangkaikan dengan Pelatihan Ekonomi Kreatif bertema “Pemuda Marhaenis, Penjaga Batas Negeri, Penggerak Kemandirian Ekonomi Rakyat” itu ditandai dengan pengambilan sumpah jabatan, penyerahan surat keputusan, serta penandatanganan pakta integritas oleh Ketua DPC GPM Rote Ndao, Dedi Danial Sanu.

Dalam pidatonya, Dedi menegaskan bahwa kehadiran Gerakan Pemuda Marhaenis di Rote Ndao merupakan bentuk komitmen untuk mendampingi masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi. Selain memperkuat organisasi hingga tingkat kecamatan melalui pembentukan Pimpinan Anak Cabang (PAC), GPM juga ingin menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat.
“Momentum pelantikan ini menjadi dasar kami untuk mengidentifikasi persoalan warga, dan mencari solusi bersama. Menjadi sahabat rakyat, menjadi mitra strategis rakyat,” ujar Dedi.
Ia menambahkan bahwa sebagai wilayah paling selatan Indonesia, Rote Ndao memiliki potensi besar yang harus dioptimalkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Dari wilayah paling selatan Indonesia, kami siap berkontribusi bagi masyarakat dan daerah tercinta Rote Ndao dengan mengedepankan seluruh keunggulan lokal sebagai kekuatan untuk memajukan daerah,” lanjutnya.
Pelantikan tersebut turut dihadiri Pemerintah Kabupaten Rote Ndao yang diwakili Camat Rote Selatan, Polce Manafe. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas terbentuknya kepengurusan GPM Rote Ndao sekaligus mengaku bangga karena kegiatan tersebut digelar di desa yang berada dekat dengan wilayah perbatasan negara.
“Biasanya acara-acara kabupaten selalu berpusat di ibu kota kabupaten, tetapi kali ini menarik karena dimulai dari desa-desa terpencil yang bahkan sangat minim infrastruktur,” kata Polce.
Ia juga mengungkapkan bahwa pelaksanaan pelantikan bertepatan dengan pemadaman listrik serentak di seluruh wilayah kabupaten sehingga panitia harus menggunakan generator untuk memastikan acara tetap berlangsung.
“Pemerintah siap berkolaborasi dengan DPC Gerakan Pemuda Marhaenis untuk berkontribusi bagi Rote Ndao,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Pemuda Marhaenis Provinsi Nusa Tenggara Timur, Aulora Agrava Modok, memberikan apresiasi kepada para pemuda desa yang berinisiatif membangun masyarakat melalui organisasi kepemudaan berbasis ideologi tersebut. Menurutnya, semangat para pengurus menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berbuat bagi daerah.
“Saya bangga karena pengurus DPC menunjukkan keikhlasan untuk mengurus rakyat melalui organisasi ini. Bila dilihat, inisiatif ini lahir dari desa-desa yang bahkan tidak ada jaringan telepon dan internet. Jadi untuk sekadar menelpon atau internet, warga mesti cari titik sinyal yang jaraknya sangat jauh dari pemukiman warga. Bayangkan, sejak Indonesia merdeka, negeri paling selatan kita masih terbelakang,” ungkap Aulora.
Ia menegaskan kondisi tersebut akan menjadi perhatian DPD GPM Nusa Tenggara Timur untuk diteruskan kepada Dewan Pimpinan Pusat agar persoalan masyarakat di wilayah perbatasan mendapat perhatian lebih besar.
“Kondisi ini menjadi catatan penting bagi kami untuk diketahui oleh Dewan Pimpinan Pusat agar dapat secara bersama turut memberikan atensi atas persoalan rakyat ini,” ujarnya.
Menurut Aulora, Rote Ndao memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi daerah yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh generasi muda sebagai modal pembangunan.
“Rakyat harus paham potensi apa dipunyai, lalu mengkonsolidasi sumber daya untuk memajukan kehidupan desa dan kabupaten. Sekali lagi, Rote Ndao bukan sebatas pulau terluar, tetapi adalah penjaga batas negeri, penjaga Republik dari bagian terselatan Indonesia,” tegasnya.
Usai pelantikan, kegiatan dilanjutkan dengan Pelatihan Ekonomi Kreatif yang diikuti pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga pemuda yang belum bekerja dari berbagai desa di Rote Ndao. Pelatihan tersebut bertujuan membangun pola pikir kewirausahaan sekaligus memperkenalkan berbagai peluang usaha berbasis potensi desa yang dapat dikembangkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Gerakan Pemuda Marhaenis merupakan organisasi kepemudaan nasionalis-kerakyatan yang berdiri sejak 1947 dengan nama awal Pemuda Demokrat, sebelum berubah menjadi Gerakan Pemuda Marhaenis pada 1963. Saat ini, organisasi tersebut telah hadir di sejumlah kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan terus memperluas jangkauan sebagai mitra strategis rakyat dalam mendorong pemberdayaan masyarakat serta pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan.
RPK FM